Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Agustus 2014

DOA ADALAH IBADAH

Berdoa adalah merupakan salah satu ibadah yang dituntunkan oleh Allah dan rosulullah. Dalam sebuah hadis, rosulullah bersabda :

الدعاء هو العبــادة

“Doa adalah ibadah.”  [Dikeluarkan oleh At-Tirmidzy (5/426), Ibnu Majah (no 3828), Abu Daud (no 1479), Ahmad 94/267), Al-Bukhary dalam Kitab Al-Adabul Mufrad (no 714), Al Hakim (1/491), berkata At-Tirmidzy hadits hasan shahih.]

Tapi pertanyaannya, apakah semua doa itu adalah ibadah? dan doa seperti apa yang dikategorikan sebagai ibadah dan mendapat pahala ? 
Seperti kita ketahui bersama, syarat sah sebuah ibadah itu harus memenuhi 2 syarat pokok :  
IKHLAS dan SESUAI TUNTUNAN ROSUL.
 Kedua syarat itu harus terpenuhi semua, tidak boleh salah satu saja. Mari kita bahas satu persatu apa dasar hukum atau dalil yg mendasari bahwa doa itu merupakan ibadah. 

IKHLAS
Iklas disini adalah melakukan segala amalan hanya karena Allah.
Tanpa ke ikhlasan kepada Allah, jgn harap doa itu akan dikabulkan dan dia bisa dikatakan tak beradab. Meminta yg tak dibolehkan selain allah adalah meminta yg sesuatu tak bisa diberikan hanya oleh allah. Contoh, rizki, kesembuhan, jodoh, keturunan.
jadi kalau ada yg meminta pada selain allah maka dia tidak ikhlas dan merup perbuatan syirik
Tapi kalau kita minta, air, minta kepada manusia itu boleh.
Bgt banyak ayat atau dalil yg menyatakan pentingnya keikhlasan.
a.       Ayat2 al quran atau hadis yg menyebutkan bhw doa adalah ibadah.
Sabda nabi, doa adalah ibadah.
Smua rosul dan kitab diturunkan hanya untuk menjelaskan bahwa ibadah hanya untuk allah swt.
Al quran surat al bayyinah 5

 Arti :  Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.

                b.  disebutkan bahwa perintah utk berdoa hanya pada Allah
                 surat al mukmin: 65



                       Mintalah kepada DIA, dengan mengikhlaskan ibadah hanya pada allah.  

                   Bahkan dalam surat Al furqon ; 58 Allah lebih menegaskan kembali 
 


Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.
 
                   Dari ayat diatas, kita bisa mengambil hikmahnya bahwa Ada 3 jenis yg tak boleh kita mintai
1.       Makhluk hidup yang akan mati
2.       Makhluk yang sudah mati walau dia orang sholeh atau nabi.
3.       Benda mati

c.    Larangan untuk berdoa kepada selain dia
Dalil : surat al jin ayat 18

“janganlah kalian meminta kepada selain allah dan selainnya"

Saat dia meminta kepada selain allah,  maka itu syirik dan semua amalannya akan hangus. Walau kita dah sholat 60 tahun, haji 7x. Semua akan hilang tak berbekas.
Bahkan allah mengacam, kelak di hari kiamat akan di datangkan amalan orang2 yg syirik dan dijadikan debu yg beterbangan. Tak berbekas.

Itu adalah dalil yang menyatakan bahwa doa itu adalah ibadah. maka berhati-hatilah jika kita menerima amalan-amalan ibaadah, pastikan terpenuhinya 2 syarat ibadah ini.

Kamis, 14 Agustus 2014

Membuka Pintu Rizki Dengan Istighfar



Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah.
· “AJIMAT ROJO BRONO: Suatu ritual khusus yang apabila Anda menjalankan dengan benar, insyaAllah dalam waktu 3 hari Anda akan segera mendapat rizqi, untuk menambah modal atau melunasi hutang tanpa tumbal. Mahar kesepakatan”.
“GOMBAL GENDERUWO: Usaha seret, atau sering tertipu, banyak saingan, untuk apa bingung. Dengan ajimat Gombal Gendruwo bisnis akan kembali lancar, disegani dan dapat menetralkan kekuatan jahat yang ingin merusak. Mahar kesepakatan”.
Demikian tawaran pelancar rizki dalam sebuah iklan yang dipasang salah satu ‘Gus’ yang memimpin sebuah “Padepokan Ilmu Hikmah dan Seni Pernafasan Tenaga Dalam” di kota Malang.[1]
· “Sarana spiritual kerezekian yang ada di majelis kami biasa dinamakan Bukhur Qomar. Untuk mendapatkan dayanya: tanamlah Bukhur Qomar di tempat usaha, lalu baca Sholawat Nariyah 11 x bakda subuh, untuk lafal Kamilatan dibaca 41 x. InsyaAllah dalam waktu tidak lama anda akan berhasil”.
Demikan jawaban seorang ‘Gus’ pemimpin sebuah “Majlis Taklim wa Dzikr” di Semarang, tatkala ditanya dalam sebuah rubrik “Konsultasi Gaib” tentang piranti pembuka rizki.[2]
Dua contoh di atas merupakan segelintir dari puluhan bahkan mungkin ratusan tawaran pembuka pintu rizki yang ada di media massa. Belum jika kita mau mencermati tawaran-tawaran pelancar lainnya yang ada di media elektronik dan dunia maya.
Yang jadi pertanyaan:
bisakah para pelaku penawaran di atas mendatangkan dalil dari al-Qur’an dan hadits -yang merupakan pedoman hidup umat Islam- sebagai landasan dari amaliah atau ajian yang mereka obral? Ataukah Islam tidak menyentuh permasalahan rizki serta melewatkan hal penting tersebut dari sorotannya?
Seorang muslim yang cerdas, tentunya akan memilah dan memilih apa yang ia baca, lihat dan dengar, serta memfilter hal-hal yang tidak memiliki landasan syar’i dari yang mempunyainya. Dia sadar betul bahwa hidupnya di dunia hanyalah sekali, sehingga tidak akan sembarangan tatkala menempuh suatu langkah atau mengambil suatu keputusan. Apalagi jika hal itu berkaitan dengan nasibnya di akherat kelak.
Dorongan mencari rizki kerap menyebabkan banyak orang terpental dari jalan yang lurus. Padahal Islam, sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh dimensi kehidupan seorang hamba, telah memberikan solusi yang begitu jelas dalam usaha memperlancar rizki.
Di antara tuntunan yang ditawarkan untuk menggapai tujuan tersebut: memperbanyak istighfar.
Dalil tuntunan tersebut firman Allah ta’ala,
“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً” (نوح: 10-12)
Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.QS. Nuh: 10-12.
Ayat di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa di antara buah istighfar: turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.
Karenanya, dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.
Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar?”.
Maka al-Hasan al-Bashri pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.
Adapun dalil dari Sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang menunjukkan bahwa memperbanyak istighfar merupakan salah satu kunci rizki, suatu hadits yang berbunyi:
“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”
“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir.
Maka silahkan perbanyaklah istighfar, serta tunggulah buahnya… Jika buahnya belum terlihat juga, perbanyaklah terus istighfar dan jangan pernah berputus asa! Di dalam setiap kesempatan, kapan dan di manapun memungkinkan; di waktu-waktu kosong saat berada di kantor, ketika menunggu dagangan di toko, saat menunggu burung di sawah dan lain sebagainya..
Catatan penting:
1. Pilihlah redaksi istighfar yang ada tuntunannya dalam al-Qur’an ataupun hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan hindarilah redaksi-redaksi yang tidak ada tuntunannya. Di antara redaksi istighfar yang ada haditsnya:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Astaghfirullâh. HR. Muslim. [3]
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه
Astaghfirullôhal ‘azhîm alladzî lâ ilâha illâ huwal hayyul qoyyûm wa atûbu ilaih.
HR. Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Albani.[4]
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْت
“Allôhumma anta robbî lâ ilâha illa anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’ûdzubika min syarri mâ shona’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya, wa abû’u bi dzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illa anta”. HR. Bukhari.[5]
Redaksi terakhir ini kata Nabi shallallahu’alaihiwasallam merupakan sayyidul istighfar atau redaksi istighfar yang paling istimewa. Menurut beliau, fadhilahnya: barangsiapa mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan, lalu meninggal di sore harinya maka ia akan dimasukkan ke surga. Begitu pula jika diucapkan di malam hari dengan meyakini maknanya, lalu ia meninggal di pagi harinya maka ia akan dimasukkan ke surga.
2. Tidak ada hadits yang menentukan jumlah khusus tatkala mengucapkan istighfar, semisal sekian ratus, ribu atau puluh ribu. Yang ada: perbanyaklah istighfar di mana dan kapanpun kita berada, jika memungkinkan, tanpa dibatasi dengan jumlah sekian dan sekian, kecuali jika memang ada tuntunan jumlahnya dari sosok sang maksum shallallahu’alaihiwasallam.
3. Hendaklah tatkala beristighfar kita menghayati maknanya sambil berusaha memenuhi konsekwensinyaberupa menghindarkan diri dari berbagai macam bentuk perbuatan maksiat. Hal itu pernah diisyaratkan oleh al-Hasan al-Bashri tatkala berkata, sebagaimana dinukil al-Qurthubi dalam Tafsirnya,
“استغفارنا يحتاج إلى استغفار”
“Istighfar kami membutuhkan untuk diistighfari kembali”.
Semoga Allah senantiasa melancarkan rizki kita dan menjadikannya berbarokah serta bermanfaat dunia akherat, amien.
Wallahu ta’ala a’lam. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.
Oleh: Abdullah Zaen, Lc, MA

@ Kedungwuluh Purbalingga, 5 Rabi’uts Tsani 1431 H / 21 Maret 2010 M
[1] Lihat: Tabloid Posmo edisi 566, 24 Maret 2010 (hal. 04).
[2] Periksa: Ibid (hal. 14).
[3] Redaksi lengkap haditsnya:
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ: “كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلَاتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلَاثًا وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ تَبَارَكْتَ ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ”. قَالَ الْوَلِيدُ فَقُلْتُ لِلْأَوْزَاعِيِّ كَيْفَ الْاسْتِغْفَارُ قَالَ تَقُولُ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ.
Tsauban bercerita, “Jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam selesai shalat beliau beristighfar tiga kali, lalu membaca “Allahumma antas salam wa minkas salam tabarokta ya dzal jalali wal ikrom”. Al-Walid (salah satu perawi hadits) bertanya kepada al-Auza’i, “Bagaimanakah (redaksi) istighfar beliau?”. “Astaghfirullah, astaghfirullah” jawab al-Auza’i.
[4] Redaksi lengkap haditsnya adalah:
“مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنْ الزَّحْفِ”
“Barangsiapa mengucapkan “Astaghfirullahal azhim alladzi la ilaha illah huwal hayyul qoyyum wa atubu ilaih” niscaya akan diampuni walaupun lari dari medan perang”.
[5] Redaksi lengkap haditsnya sebagai berikut:
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ: “اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ” إِذَا قَالَ حِينَ يُمْسِي فَمَاتَ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ, وَإِذَا قَالَ حِينَ يُصْبِحُ فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ مِثْلَهُ”.
Dari Syaddad bin Aus, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda, “Istighfar yang paling istimewa adalah: “Allôhumma anta robbî lâ ilâha illâ anta kholaqtanî wa anâ ‘abduka wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu, abû’u laka bini’matika ‘alayya wa abû’u laka bidzanbî, faghfirlî fa innahu lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta, a’ûdzubika min syarri mâ shona’tu” (Ya Allah, Engkaulah Rabbku itdak ada yang berhak disembang melainkan diriMu. Engkau telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu dan aku akan setia di atas perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku mengakui nikmat-Mu untukku dan aku mengkaui dosaku. Maka ampunilah diriku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa melainkan diri-Mu. Aku memohon perlindungan dari-Mu dari keburukan perbuatanku). Andaikan seorang hamba mengucapkannya di sore hari kemudian ia mati maka akan masuk surga atau akan termasuk penghuni surga. Dan jika ia mengucapkannya di pagi hari lalu meninggal maka ia akan mendapatkan ganjaran serupa”.

Kamis, 15 Mei 2014

Permasalahan Qunut Subuh

Qunut Subuh
     Doa Qunut subuh sering sekali menjadi bahan perselisihan beberapa ormas islam yang tiada berujung, Tak jarang hanya karena masalah doa qunut, menimbulkan pertengkaran diantara mereka. Mari kita buka bersama permasalahan ini agar menjadi jelas kedudukannya.
      Mereka yang meyakini doa qunut subuh sebenarnya berdasar pada sebuah hadis, yg bunyinya 

"Anas bin Malik berkata, "Rasulullah Shalallaahu 'alaihiwasallam masih terus melakukan qunut ketika shalat shubuh sampai beliau meninggal dunia"

Hadis tersebut diatas sebenarnya adalah dha'if , sehingga beberapa ulama menyatakan doa qunut subuh itu bid'ah. Syaikh al-'Allaamah ibn 'Utsaimin rahimahullah menasehatkan, "Lihatlah para imam (kaum muslimin) yang mereka benar-benar memahami nilai-nilai persatuan. Imam Ahmad rahimahullah berpendapat qunut shalat Subuh adalah bid'ah. Meskipun demikian beliau berkata, "jika engkau shalat di belakang imam yang qunut subuh maka ikutilah qunutnya, dan aminilah doa imam tersebut".  ini semua demi persatuanbarisan dan  hati, serta agar tidak timbul kebencian antara sebagian kita terhadap yang lain."
Syaikh Dr. Muhammad bin Haadi al-Madkalii hafizhahullaah juga memberikan keterangan serupa, ketika hal itu ditanyakan. Kenapa ketika jadi makmun  kita ikut mengangkat tangan dan mengamini?

Syaikh al-'Alamah Abdul Muhsin al-'Abbaad hafizhahullaah, setelah merajihkan bahwa hadits tersebut dha'if, beliau menjelaskan bagaimana seharusnya makmum bersikap dalam permasalahan-permasalahan seperti ini, "seseorang mengikuti imam dalam masalah-masalah khilaafiyyah (yang masih diperselisihkan oleh para ulama)".... Dia harus mengikuti imam dan tidak boleh memisahkan diri atau meninggalkan shalat dibelakang orang yang berqunut". Jika seorang memandang bahwa amalan itu tidak sejalan (dengan sunnah) atau dia berpendapat bahwa perkara itu bid'ah sedangkan yang lain berpendapat bahwa itu adalah sunnah, dalam kondisi seperti itu dia tidak boleh meninggalkan shalat di belakang orang yang berbeda pendapat dengannya saat dia mengamalkan apa yang ia yakini"

Sampai saat ini belum kami temukan riwayat yang berisi : Imam Ahmad mengatakan bahwa terus menerus qunut di shalat subuh adalah bid'ah. Yang ada adalah  Imam Ahmad berpendapat bahwa terus menerus qunut di shalat subuh hukumnya makruh (masa'il al-Imam Ahmad riwayat Ibn Hani' dan Al-Mughni karya Ibn Qudamah). Dan ini adalah pendapat sebagian besar ulama madzhab Hanbali,  Sedangkan yang berpendapat amalan tersebut adalah bid'ah sepengetahuan kami adalah Ibn Tamim; salah seorang ulama madzhab Hanbali. Wallahu a'lam.
Diantara ulama yang berpendapat bahwa qunut subuh hukumnya sunah adalah :
1. Imam malik (lihat; al-Istidzkar karya Ibn Abdil Barr:VI/201, al-Mudawwanah al-Kubra:I/100 dan Bidayah al-Mujtahid karya Ibn Rusyd;II239)
2. Imam Syafi'i (Lihat ; Al-Umm:I/246)
3. Sebagian besar ulama madzhab Syafi'i 
4. Imam Ath Thabari (lihat : Tharh at-Tatsrib karya al-'Iraqi:I/289)
5. Imam Dawud azh-zhahiri
6. Imam Ibn Abi Laila
7. Riwayat dari Imam Ahmad (lihat : Al-Istidzkar karya Ibn Abdil Barr:VI/201) dll.
Mereka yang berpendapat hukum doa qunut subuh adalah sunah, selain berdasar pada hadis dha'if tersebut, juga berdalilkan dengan atsar-atsar sahih dan hasan dari sebagian sahabat yang berqunut ketika subuh. Perlu diketahui, Atsar adalah kebiasaan yang dilakukan para sahabat dalam beribadah. mereka diantaranya :
1. Anas bin Malik (diriwayatkan oleh ath-Thabari)
2. Abu Hurairah (diriwayatkan oleh ath-Tahawi)
3. Ibnu 'Abbas ra (diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah )

dari penjelasan diatas, maka menghukumi doa qunut subuh sebagai sebuah bid'ah adalah sesuatu yang berat; karena para ulama besar juga mengatakan itu sunah, bahkan sebagian sahabat nabi melaksanakannya. Para sahabat nabi adalah generasi terbaik umat ini dalam beribadah, mereka sangat menjaga ibadahnya agar sesuai tuntunan rosulullah.
Apalagi ada juga yang menguatkan hadis qunut baik ulama dahulu maupun sekarang, diantara ulama terdahulu :
1. Al-Hafizh Ibnu 'Abdil Hadi (lihat; Tanqih at-Tahqiq)
2. Imam Abu Abdillah al-Balkhi
3. Imam Al-Baihaqi (lihat; Al-Badr al-Munir karya ibn al-Mulaqqin)
Ulama kontemporer :
1. Syaikh al-Muhaddits Abdurrahman al-Mu'allimi (lihat: at-Tankil)
Oleh karena itu ibnu al-Qayyim dalam Zad al-Ma'ad membantah golongan yang mengataan bahwa qunut subuh adalah bid'ah, dan beliau berpendapat baahwa yang berqunut baik, begitu pula yang tidak berqunut juga baik.

Adapun Atsar yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari salah seorang sahabat bernama Thariq bin Asy-yam ra, ketika beliau ditanya anaknya, " Selama engkau shalat di belakang Rasulullah,Abu bakr, 'Umar dan 'Utsman, apakah engkau dapatkan mereka berqunut?". Thariq menjawab,"wahai anakku itu muhdats(bid'ah)!". Atsar ini telah dijawab oleh para ulama, antara lain al-Baihaqi dalam as-sunan al-Kubra dan al-Atsram dalam Nasikh al-Hadits wa Mansukhuh. Mereka menjawab dengan suatu kaidah ushuliyyah "orang yang menghafal dalil lebih dikedepankan atas orang yang tidak menghapalnya dan orang yang melihat suatu peristiwa lebih dikedepankan atas oran yang tidak melihat. Memang Thaiq tidak melihat Rosulllah shallallahu 'Alaihiwasallam berqunut, namun sahabat nabi yang lain telahmelihatnya. Maka yang melihatnya dikedepankan atas yang tidak melihat.

Demikian permasalah doa qunut yang ternyata keduanya memiliki dalil yang kuat, sehingga tidak bijak kita langsung menyatakan bid'ah. Hal terbaik adalah kita saling menghormati antar umat muslim. Jika kita berkeyakinan doa qunut adalah bid'ah, maka ketika kita ma'mum di belakan imam yang menggunakan doa qunut, kita boleh mengamininya. Begitu pula sebaliknya. semoga apa yang kami sampaikan bisa bermanfaat bagi pembaca
Nara sumber : Ustadz Abdullah Zaen Lc MA

Minggu, 11 Mei 2014

Bab Doa ; Pendahuluan

Pendahuluan 
      Doa merupakan masalah yang pokok dalam islam, Bisa dikatakan doa itu adalah senjatanya orang muslim. Rosulullah sebagai manusia yang suci dari dosapun setiap hari terus memanjatkan doanya kepada Allah, padahal beliau sudah dijaminkan untuk masuk surga.Namun sayang sangat jarang orang yang tau bagaimana caranya berdoa dengan benar, sehingga itulah salah satu yang menyebabkan doa tidak terkabul. Karena jika tatacara dalam berdoa tidak sesuai dengan tuntunan rosul, maka amalan itu tertolak.
Allahpun memerintahkan kita untuk selalu berdoa, Dalam surat Al Mu'min ayat 60 Allah berfirman
" Berdoalah kamu maka akan AKU kabulkan"

 Disini Allah menyuruh kita untuk berdoa, dan berjanji mengabulkan. Allah menyuruh kita meminta, padahal DIA tidak butuh kita. Karena Dia Maha Kuasa. Sangat mudah bagi Allah untuk memusnahkan umat ini dan diganti dg umat yg lain.
Dalam sebuah hadis qudsi
Wahai para hambaku, kalian semuanya sesat, kecuali orang yang akan AKU beri hidayah. Maka mintalah hidayah padaKU, niscaya AKU beri hidayah.
Jadi sesungguhnya secara umum. Kita sebenarnya sesat, kecuali yg diberi hidayah Allah.
Maka dalam hadis lain
 “barangsiapa diberi hidayah, maka tak akan sesat. Barang siapa yang sudah disesatkan oleh Allah maka tak akan yang bisa memberi petunjuk.
Tapi ini jangan menjadi dalil “wahh....aku dah ditakdirkan jadi maling.”
Yang dimaksud hadis ini, ada yg sudah ditakdirkan bhw si fulan hidupnya sesat sampai mati. Tapi siapa yang tau takdir kita?
Allah berfiman: (Hadis qudsi)
1.       Kami beritahukan pada mereka 2 jalan, jalan yang sesat dan benar
2.       Wahai para hambaku, seluruh kalian lapar kecuali yang aku beri makan.
3.       Wahai para hambaku, semua kalian tidak berpakaian kecuali yang aku beri pakaian.
4.       Wahai para hambaku, sesungguhnya kalian melakukan dosa siang dan malam dan AKU akan ampuni dosa semuanya.
5.        Seandainya manusia yang pertama sampai yang terakhir, manusia dan jin, semuanya       berkumpul di suatu tempat dan semuanya minta kepada ALLAH dan smua diberi. Itu tidak akan mengurangi kekayaanku serperti air laut yang diambil dengan jarum.
Hadis ini menggambarkan bahwa setiap urusan apapun, kita harus memohon kepada Allah. Apapun itu urusannya, baik dunia maupun akhirat.