Tampilkan postingan dengan label dzikir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dzikir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 September 2014

Redaksi dari Tahmid Yang benar

Seorang muslim dalam beribadah kepada Allah ta’ala memiliki panduan yang jelas. Tata cara yang dijalaninya harus selalu berusaha mencontoh Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Tak terkecuali dalam berdzikir.
Ada beberapa redaksi tahmid yang termaktub dalam al-Qur’an maupun hadits. Redaksi-redaksi itulah yang seharusnya dipilih oleh seorang muslim. Di antaranya:
“Alhamdulillahi Robbil ‘âlamîn” (Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam). QS. Al-Fatihah: 1.
“Alhamdulillâhi hamdan katsîron thoyyiban mubârokan fîhi mubârokan ‘alaihi, kamâ yuhibbu Robbunâ wa yardhô” (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, diberkahi dan diberkahi. Sebagaimana yang dicintai Rabb kami dan diridhai-Nya). HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh al-Albany.
“Alhamdulillâhi hamdan katsîron thoyyiban mubârokan fîhi, ghoiro makfiyyin, wa lâ muwadda’in, wa lâ mustaghnâ ‘anhu Robbunâ”(Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan diberkahi. Pujian yang tidak tertolak, tidak ditinggalkan dan tidak dibuang (bahkan dibutuhkan). (Dialah) Rabb kami). HR. Bukhari.
Dan masih ada redaksi lainnya.
Peringatan penting
Ada sebuah redaksi tahmid yang sering dipakai oleh banyak orang. Yaitu: “Alhamdulillâhi Robbil ‘âlamîn hamdan yuwâfî ni’amahu wa yukâfi’u mazîdah”(Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, dengan pujian yang menyamai nikmat-nikmat-Nya, bahkan melebihinya).
Redaksi ini, walaupun banyak dibaca orang, namun ternyata tidak bersumber dari hadits yang sahih atau minimal hasan. Juga tidak diamalkan para sahabat. Demikian yang dijelaskan oleh para ulama Islam. Terlebih lagi kandungan maknanya juga bermasalah.
Dalam redaksi itu disebutkan bahwa pujian yang diucapkan hamba menyamai nikmat-nikmat yang dikaruniakan Allah. Ini jelas tidak benar. Satu nikmat Allah saja, tidak mungkin pujian seorang hamba bisa menyamainya. Apalagi seluruh nikmat-Nya. Karena karunia Allah tidak mungkin terhitung, sedangkan pujian hamba bisa terhitung.
Yang lebih parah lagi, di redaksi tahmid tersebut juga dinyatakan bahwa pujian hamba melebihi nikmat Allah! Ini  tentu ungkapan yang tidak beretika kepada Allah. Andaikan menyamai nikmat Allah saja tidak mungkin, apalagi melebihinya?!*
Sekedar ilustrasi betapa besarnya karunia Allah kepada para hamba-Nya. Tahukah Anda bahwa untuk bernafas, dalam satu hari kita membutuhkan 14.400 liter udara? Dalam bernafas kita membutuhkan dua unsur gas utama, yaitu oksigen dan nitrogen. Perlu diketahui bahwa harga oksigen Rp. 25.000 per liter dan nitrogen Rp. 9.950. Jadi setiap harinya manusia menghirup udara sekurang-kurangnya senilai Rp. 176.652.165. Dengan kata lain, bila manusia diminta membayar harga udara yang dihirupnya, maka setiap bulan ia harus menyediakan uang sekitar 5,3 miliar rupiah![1]

sumber ; Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkârkarya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/260-263).

Selasa, 06 Mei 2014

KEUTAMAAN DZIKIR

Dzikir merupakan salah satu kebutuhan primer seorang hamba. Tidak ada satu momen pun dalam kehidupannya yang ia tidak membutuhkan dzikir di dalamnya. Bahkan jika ada waktu terlewat tanpa dzikir, niscaya seorang insan akan menyesali hal itu pada hari kiamat nanti.
Dzikir juga merupakan salah satu ibadah yang amat diutamakan dalam Islam. Karena itu banyak ayat dan hadits yang memotivasi kita untuk berdzikir.
Di antaranya: firman Allah jalla wa ‘ala,
وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: “Para laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir mengingat Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Ahzab: 35.
Juga firman-Nya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا . وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا . هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا . تَحِيَّتُهُمْ يَوْمَ يَلْقَوْنَهُ سَلَامٌ وَأَعَدَّ لَهُمْ أَجْرًا كَرِيمًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada Allah, dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Penghormatan untuk mereka (orang-orang mukmin itu) ketika mereka menemui-Nya ialah, “Salam”, dan Dia menyediakan pahala yang mulia (surga) bagi mereka”. QS. Al-Ahzab: 41-44.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟” قَالُوا: “بَلَى” قَالَ: “ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى”.
“Maukah kalian kuberitahukan amalan yang paling utama, yang paling dicintai Allah, yang paling tinggi di derajat kalian, yang lebih utama dari berinfak dengan emas dan perak, serta lebih utama dibanding kalian berperang dengan musuh lalu kalian memenggal leher mereka, dan mereka memenggal leher kalian?”.
“Tentu wahai Rasul”, sahut mereka (para sahabat).
“Dzikrullah”, lanjut Nabi shallallahu’alaihiwasallam. HR. Tirmidzy (hal. 766 no. 3377) dari Abu Darda’ radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.
@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga,28 Syawal 1432

MANFAAT DZIKIR

Dzikir memiliki banyak sekali manfaat. Saking banyaknya, sampai-sampai Imam Ibn al-Qayyim dalam kitabnya al-Wâbil ash-Shayyib menyebutkan bahwa dzikir memiliki lebih dari seratus manfaat.
1. Dzikir akan mengusir setan dan mengekangnya
Allah ta’ala menjelaskan akibat dari tidak berdzikir,
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
Artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari dzikir kepada Allah Yang Maha Pengasih, akan Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya”. QS. Az-Zukhruf: 36.
Karena itulah manakala merasa gangguan setan datang, kita diperintahkan Allah untuk bersegera berlindung pada-Nya.
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. QS. Al-A’raf: 200.
Menurut Nabi shallallahu’alaihiwasallam perumpamaan orang yang berdzikir seperti “Orang yang dikejar-kejar musuh, hingga ia menemukan benteng kuat yang bisa melindunginya dari musuh itu. Begitu pula seorang hamba, tidak ada yang bisa melindunginya dari setan melainkan hanya dzikrullah”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.
2. Dzikir akan mendatangkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan hati
Allah ta’ala berfirman,
الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du: 28.
Dzikir bukan hanya sumber ketenangan hati, bahkan dzikir merupakan sumber kehidupan hati, sebab ia merupakan makanan dan nyawanya hati. Andaikan ada suatu hati yang kosong dari dzikir, maka diumpamakan seperti tubuh yang tidak mendapatkan suplai makanan. Karena itulah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pernah menyampaikan sebuah kalimat mutiara, “Kedudukan dzikir bagi hati bagaikan kedudukan air untuk ikan. Bagaimanakah kondisi ikan manakala ia dijauhkan dari air?”.
3. Manakala hamba berdzikir mengingat Allah, maka Allah akan mengingat hamba-Nya
Allah ta’ala berfirman,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
Artinya: “Ingatlah kepada-Ku, Akupun akan ingat kepadamu”. QS. Al-Baqarah: 152.
Maksud dari Allah akan mengingat hamba-Nya adalah: Allah akan melimpahkan kasih sayang dan ampunan-Nya kepada sang hamba, juga pertolongan-Nya. Demikian keterangan dalam Tafsîr ath-Thabary dan Tafsîr al-Khâzin.

4. Dzikir akan mengapuskan dosa dan menyelamatkan hamba dari azab Allah

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Tak ada amalan yang dikerjakan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah dibanding dzikrullah”. HR. Ahmad dari Mu’adz bin Jabal  dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.
5. Dzikir menghasilkan pahala melimpah yang tidak bisa dihasilkan amalan lain
Inilah salah satu keistimewaan dzikir. Padahal jika dibanding dengan ibadah lainnya, dzikir merupakan salah satu ibadah termudah dan paling ringan. Menggerakkan lisan jauh lebih mudah dibandingkan menggerakkan anggota tubuh lainnya. Maka andaikan seorang insan diminta untuk menggerakkan anggota tubuhnya sebanyak gerakan yang dilakukan lisannya niscaya ia akan sangat lelah, atau bahkan tidak akan mampu. Padahal pahala yang dijanjikan untuk dzikir amatlah besar. Rasulullah shallallahu’alaihwasallam menjelaskan,
“أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ؟” قَالُوا: “بَلَى” قَالَ: “ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى”.
“Maukah kalian kuberitahukan amalan yang paling utama, yang paling dicintai Allah, yang paling tinggi di derajat kalian, yang lebih utama dari berinfak dengan emas dan perak, serta lebih utama dibanding kalian berperang dengan musuh lalu kalian memenggal leher mereka, dan mereka memenggal leher kalian?”.
“Tentu wahai Rasul”, sahut mereka (para sahabat).
“Dzikrullah”, lanjut Nabi shallallahu’alaihiwasallam. HR. Tirmidzy (hal. 766 no. 3377) dari Abu Darda’ radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh Syaikh al-Albany.
6. Dengan berdzikir kita bisa menanam pohon di surga
Pohon di surga jauh berbeda dengan pohon di dunia. Dalam sebuah hadits sahih disebutkan:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ لَا يَقْطَعُهَا
“Sesungguhnya di surga ada pohon yang jika seseorang berjalan di bawah naungannya niscaya seratus tahun pun ia tidak akan selesai”. HR. Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu.
Walau pohonnya begitu besar, namun untuk memetik buahnya kita tidak perlu bersusah payah untuk memanjatnya. Sebab buah-buahan tersebut akan mendekat dengan sendirinya ke kita. (Baca: QS. Ar-Rahmân: 54 dan QS. Al-Hâqqah: 23).
Tidakkah Anda merasa tertarik untuk berinvestasi menanam pohon di surga sejak sekarang? Berdzikirlah banyak-banyak!
إِنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
“Sungguh surga itu tanahnya subur dan rata, serta airnya segar. Tanamannya adalah: Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illah dan Allahuakbar”. HR. Tirmidzy dari Ibn Mas’ud radhiyallahu’anhu dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albany.
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa mengucapkan “Subhanallahil ‘azhim wa bihamdih (Maha suci Allah Yang Mahaagung dan segala puji untuk-Nya)” akan ditanamkan untuknya pohon kurma di surga”. HR. Tirmidzy dari Jabir radhiyallahu’anhu dan dinilai sahih oleh al-Hakim.

7. Dengan berdzikir seorang insan akan dikarunia cahaya
Cahaya tersebut akan dinikmati muslim di dunia, di kuburan serta di alam akhirat. Dan cahaya tersebut akan menerangi hati juga wajahnya.
Allah ta’ala berfirman,
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
Artinya: “Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana?”. QS. Al-An’am: 122.

8. Dengan berdzikir kita akan disayang Allah dan didoakan malaikat
Barang siapa disayang Allah dan didokan malaikat maka ia telah mendapat keberuntungan dan kemenangan yang sebenar-benarnya. Allah ta’ala berfirman,
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا . وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً” . هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا”.
 Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman berdzikirlah (ingatlah kepada) Allah dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman”. QS. Al-Ahzab: 41-43.
9. Dengan banyak dzikir seseorang akan terhindar dari sifat munafik.
Ka’ab berkata, “Barang siapa memperbanyak berdzikir maka ia akan terbebas dari kemunafikan”.
Salah satu karakter menonjol orang-orang munafik adalah: sedikit berdzikir. Sebagaimana diterangkan Allah ta’ala,
“وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا”.
Artinya: “Mereka tidak berdzikir (mengingat) Allah kecuali hanya sebentar”. QS. An-Nisa: 142.

10. Dzikir merupakan obat hati dan penyembuh penyakit-penyakitnya
Mak-hul bin Abdullah rahimahullah menjelaskan, “Dzikrullah adalah obat”.
Dzikir juga akan menghilangkan kerasnya hati. Suatu hari ada seseorang yang datang kepada al-Hasan al-Bashry mengeluhkan kerasnya hati dia. Beliau menjawab, “Hilangkan itu dengan dzikir!”.
11. Orang yang berdzikir akan dekat dengan Allah dan ditemani oleh-Nya
Dalam hadits qudsi, Allah ta’ala berfirman,
“أَنَا مَعَ عَبْدِي حَيْثُمَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاه“.
“Aku akan bersama hamba-Ku manakala ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.

12. Dengan berdzikir rizki kita akan lancar
Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”. QS. Nuh: 10-12.
Ayat di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa di antara buah istighfar: turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.
Karenanya, dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.
Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar?”.
Maka al-Hasan al-Bashri pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.
Rasul shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”
“Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”. HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir.

13. Dzikir akan melindungi insan dari marabahaya
“إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا“
Artinya: “Sesungguhnya Allah melindungi orang-orang yang beriman”. QS. Al-Hajj: 38.
Perlindungan Allah kepada para hamba-Nya disesuaikan dengan kekuatan dan kesempurnaan iman mereka. Substansi dan kekuatan iman ada dalam dzikir. Barang siapa yang imannya lebih sempurna dan dzikirnya lebih banyak maka perlindungan Allah pada-Nya lebih kuat. Demikian pula sebaliknya!

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 8 Shafar 1433 / 2 Januari 2012


[1]   Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/14-18) dengan beberapa tambahan.
[2]   Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/18-19) dengan beberapa tambahan.
[3]   Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/19-21) dengan beberapa tambahan.
[4]   Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/22-25) dengan beberapa tambahan.
*   Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc, MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/25-26) dengan beberapa tambahan.
*   Disarikan oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr al-‘Abbad (I/28-29) dengan beberapa tambahan.

BUKAN SEMBARANG DZIKIR

Dzikir merupakan salah satu ibadah yang memiliki banyak keistimewaan, di antaranya: akan mendatangkan ketenangan bagi para pelakunya. Sebagaimana ditegaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya,
“أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ”.
Artinya: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. QS. Ar-Ra’du: 28.
Namun, yang kerap menjadi pertanyaan, sudahkah dzikir yang kita lantunkan mendatangkan ketenangan batin? Jika belum, barangkali dikarenakan kita baru asal berdzikir. Berikut beberapa kriteria dzikir sempurna yang diharapkan akan membuahkan ketentraman hati:1
1. Dzikir yang banyak.
Dalil kriteria ini, antara lain: QS. Al-Ahzab: 41. Batas minimal seorang bisa dikatakan telah banyak berdzikir adalah: manakala dia rajin mengamalkan dzikir dan wirid yang telah ditentukan momen-momennya dalam al-Qur’an dan Sunnah2. Adapun batas maksimalnya: lisan seseorang senantiasa basah dengan dzikrullah dalam setiap kesempatan, sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam QS. Ali Imran: 191.3
2. Dzikir yang memadukan antara amalan lisan dan peresapan hati.
Maksudnya, dzikir yang dilantunkan dengan lisan, berupa tasbîh, tahmîd, tahlîl, takbîr, istighfâr dan yang lainnya, diiringi dengan peresapan makna yang dikandung dalam berbagai kalimat mulia tersebut. Sehingga membuahkan perubahan perilaku seorang hamba menuju kepada kebaikan. Dan inilah tingkatan dzikir yang paling tinggi.4
3. Dzikir yang mengiringi seluruh amalan hamba.
Dzikir bukanlah suatu amalan tidak mungkin digabungkan dengan amalan lainnya5. Bahkan dzikir bisa memasuki ranah seluruh amalan; shalat, puasa, zakat, haji, amar ma’ruf nahi mungkar dan ibadah lainnya. Justru manakala amalan tersebut dipadukan dengan dzikir, maka amalan tersebut akan melesat menuju puncak kualitasnya yang tertinggi6.
Maksud kriteria ketiga ini: manakala seorang hamba melakukan amal ibadah apapun ia tidak lupa untuk berdzikir alias mengingat Allah, dan menghadirkan keikhlasan niat di dalamnya.
4. Dzikir yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Alangkah mengherankan praktek sebagian kalangan yang dengan rutin membaca wirid dan hizib yang sama sekali tidak ada dalilnya dari al-Qur’an dan Sunnah, padahal masih banyak dzikir yang jelas-jelas ada tuntunannya belum mereka amalkan.
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengingatkan,
“مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ”.
“Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak”. HR. Muslim (III/1344 no 1718).

[1] Disarikan dari beberapa referensi, antara lain: Fath al-Bâry karya Imam Ibn Rajab (III/48), Fath al-Bâry karya al-Hafizh Ibn Hajar (XI/251-252) dan Tajrîd al-Ittibâ’ fî Bayân Asbâb Tafâdhul al-A’mâl karya Syaikh Prof. Dr. Ibrahim ar-Ruhaily (hal. 31-32).
[2] Lihat: Tafsîr as-Sa’dy (hal. 614).
[3] Cermati: Ibid (hal. 614 dan 128) dan Jâmi’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’an karya al-Îjî (hal. 176).
[4] Baca: Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/431).
[5] Fath al-Bâry karya Imam Ibn Rajab (III/48).
[6] Fath al-Bâry karya al-Hafizh Ibn Hajar (XI/252).

Minggu, 04 Mei 2014

KALIMAT TAHMID

Sebenarnya, setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa memuji Allah kapanpun juga. Sebab di seluruh waktunya, pasti ia berada dalam curahan nikmat Allah ta’ala. Entah itu berupa nikmat duniawi maupun ukhrawi. Baik itu berupa kebaikan yang didapatkan atau marabahaya yang terhindarkan.
Alasan lain mengapa kita perlu untuk senantiasa memuji Allah, adalah sebab Dia adalah dzat yang pantas untuk selalu dipuji; dikarenakan kesempurnaan sifat-sifat dan nama-nama-Nya. Masing-masing dari nama dan sifat-Nya mendorong kita untuk memuji-Nya, bagaimana bila seluruh nama dan sifat tersebut terkumpul dalam satu dzat, yakni Allah ta’ala?
Namun, ada beberapa kondisi yang mendapat penekanan khusus dari agama, agar seorang hamba mengucapkan kalimat tahmid pada saat itu. Di antaranya:
1. Setelah selesai makan dan minum
Hal ini berlandaskan firman Allah ta’ala dalam QS. Al-Baqarah (2): 172, juga sabda Rasulshallallahu ‘alaihiwasallam, “Sesungguhnya Allah akan meridhai hamba-Nya manakala selesai makan atau minum ia memuji-Nya”. HR. Muslim dari Anas bin Malik.
Redaksi hamdalah atau pujian pada Allah setelah selesai makan ada beberapa macam. Antara lain:
a. “الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْداً كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ، وَلَا مُوَدَّعٍ، وَلَا مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبُّنَا”
“Alhamdulillâhi hamdan katsîron thoyyiban mubârokan fîhi, ghoiro makfiyyin, wa lâ muwadda’in, wa lâ mustaghnâ ‘anhu robbunâ”.
Artinya: “Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik dan diberkahi. Pujian yang tidak tertolak, tidak ditinggalkan dan tidak dibuang (bahkan dibutuhkan). (Dialah) Rabb kami”.HR. Bukhari.
b. “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ”
“Alhamdulillâhilladzî ath’amanî hâdzâ wa rozaqonîhi min ghoiri haulin minnî wa lâ quwwatin”.
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberiku makanan ini, tanpa adanya daya dan kekuatan dariku”. HR. Abu Dawud dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim. Adapun Syaikh al-Albany menyatakan hadits ini hasan[1].
Catatan:
Masih ada redaksi hamdalah sesudah makan lainnya yang berlandaskan hadits sahih. Banyak di antaranya telah disebutkan oleh Imam an-Nawawy dalam kitabnya al-Adzkâr[2]. Adapun redaksi yang masyhur di kalangan banyak kaum muslimin yang berbunyi: “Alhamdulillahilladzî ath’amanâ wa saqônâ wa ja’alanâ minal muslimîn”, redaksi ini disebutkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan yang lainnya. Hanya saja hadits ini dinilai lemah oleh Imam adz-Dzahaby[3] dan Syaikh al-Albany[4]; dikarenakan sanadnya bermasalah[5].

2. Ketika shalat, terutama saat i’tidal (berdiri setelah ruku’ sebelum sujud).
Banyak redaksi hamdalah untuk momen ini, di antaranya:
a. Robbanâ wa lakal hamdu hamdan katsîron thoyyiban mubârokan fîhi.
Dalilnya: hadits yang dituturkan Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqy radhiyallahu’anhu,
كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ: “سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ”. قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ: “رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ”. فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: “مَنْ الْمُتَكَلِّمُ؟”، قَالَ: “أَنَا”، قَالَ: “رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ”.
“Suatu hari kami shalat di belakang Nabi shallallahu’alaihiwasallam. Saat mengangkat kepalanya setelah ruku’, beliau membaca, “Sami’allôhu liman hamidah (Allah mendengar siapa yang memuji-Nya)”.
Seorang makmum menimpali, “Robbanâ wa lakal hamdu hamdan katsîron thoyyiban mubârokan fîhi (Rabb kami, milik-Mu lah segala pujian yang banyak, baik dan diberkahi)”.[1]
Selesai shalat beliau bersabda, “Siapakah yang mengucapkan bacaan tadi?”.
Laki-laki tadi menjawab, “Saya”.
Beliau menjelaskan, “Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba siapakah yang menulisnya pertama kali”. HR. Bukhari.
b. Allôhumma robbanâ lakal hamdu mil’as samâwâti wa mil’al ardhi, wa mil’a mâ syi’ta min syai’in ba’du.
Dalilnya: hadits yang disampaikan Ibnu Abi Aufa radhiyallahu’anhu,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ ظَهْرَهُ مِنْ الرُّكُوعِ قَالَ: “سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ الْأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ”.
   “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam jika mengangkat punggungnya saat bangkit dari ruku’, beliau membaca: “Sami’allôhu liman hamidah. Allôhumma robbanâ lakal hamdu mil’as samâwâti wa mil’al ardhi wa mil’a mâ syi’ta min syai’in ba’du (Allah mendengar siapa yang memuji-Nya. Ya Allah, Rabb kami, punya-Mu lah segala pujian seluas langit dan bumi serta seluas apapun selainnya sesuai kehendak-Mu)”. HR. Muslim.
Dan masih ada redaksi lain yang berlandaskan hadits sahih[2].

3. Setelah shalat.                                       
Jumlahnya boleh 33 kali, juga boleh 10 kali[1].
Dalilnya: Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ، وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ: “لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ”؛ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ”.
“Barang siapa bertasbih kepada Allah setiap selesai shalat 33 kali, bertahmid 33 kali, bertakbir 33 kali, dan ini berjumlah 99 kali, lalu menutupnya di hitungan ke seratus dengan: “Lâ ilâha Ilallôhu wahdahu lâ syarîka lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr”; niscaya dosa-dosanya akan diampuni walaupun sebanyak buih di lautan”. HR. Muslim.
Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,
“خَصْلَتَانِ أَوْ خَلَّتَانِ لَا يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ، هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ. يُسَبِّحُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا، وَيَحْمَدُ عَشْرًا، وَيُكَبِّرُ عَشْرًا؛ فَذَلِكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ، وَأَلْفٌ وَخَمْسُ مِائَةٍ فِي الْمِيزَانِ. وَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ، وَيَحْمَدُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَيُسَبِّحُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ؛ فَذَلِكَ مِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ فِي الْمِيزَان. فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْقِدُهَا بِيَدِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ؟ قَالَ يَأْتِي أَحَدَكُمْ يَعْنِي الشَّيْطَانَ فِي مَنَامِهِ فَيُنَوِّمُهُ قَبْلَ أَنْ يَقُولَهُ وَيَأْتِيهِ فِي صَلَاتِهِ فَيُذَكِّرُهُ حَاجَةً قَبْلَ أَنْ يَقُولَهَا”.
“Ada dua amalan, yang jika senantiasa dijaga seorang muslim; niscaya ia akan masuk surga. Keduanya mudah, namun yang mengamalkannya sedikit. (Amalan pertama): bertasbih setiap selesai shalat 10 kali, bertahmid 10 kali dan bertakbir 10 kali, semuanya berjumlah 150 di lisan, namun tertulis 1500 pahala di timbangan. (Amalan kedua): Bertakbir sebelum tidur 34 kali, bertahmid 33 kali serta bertasbih 33 kali; semuanya berjumlah 100 di lisan, namun tertulis 1000 pahala di timbangan.
Aku telah melihat Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menghitungnya dengan tangannya.
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, jika kedua amalan tersebut ringan, mengapa yang mengamalkannya sedikit?”.
“Sebab setan mendatangi salah satu kalian sebelum tidur dan membuatnya mengantuk sebelum membaca dzikir tersebut. Juga mendatanginya saat shalat lalu mengingatkannya dengan (berbagai) urusan sebelum ia sempat untuk mengucapkan dzikir tersebut”.
HR. Abu Dawud dan isnadnya dinilai sahih oleh Imam an-Nawawy[2]. Adapun Syaikh al-Albany menyatakan hadits ini sahih[3].

4. Di awal khutbah, pelajaran, serta di awal buku dan yang semisal.
Dalilnya: hadits yang disebutkan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu:
“عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَةَ الْحَاجَةِ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ”.
“Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajari kami khutbah al-hajah (pembuka urusan) dengan mengucapkan: “Alhamdulillâh, nasta’înuhu wa nastaghfiruh, wa na’ûdzu bihi min syurûri anfusinâ, man yahdillâhu fa lâ mudhilla lah, wa man yudhlil fa lâ hâdiya lah, wa asyhadu al lâ ilâha illallâh, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rosûluh (Segala puji bagi Allah. Kami mohon pertolongan, ampunan dan perlindungan pada-Nya dari kejahatan diri kami. Barang siapa dikaruniai hidayah dari Allah, niscaya tidak ada yang bisa menyesatkannya. Dan barang siapa disesatkan-Nya niscaya tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya)…”. HR. Abu Dawud.[1]

5. Saat mendapat kenikmatan atau terhindar marabahaya, baik itu berkenaan dengan diri sendiri maupun orang lain.
Di antara dalilnya: hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu:
“Saat malam kejadian isra’ di Elia (Palestina) Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dihadapkan dengan dua buah mangkok; pertama berisi khamr dan yang kedua berisi susu. Beliau pun melihat keduanya, lalu mengambil mangkok yang berisi susu.
Malaikat Jibril pun berucap, “Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) Yang telah memberimu petunjuk kepada fitrah. Andaikan engkau mengambil khamr; niscaya umatmu akan sesat”. HR. Bukhari dan Muslim
6. Ketika memakai pakaian baru.
Dalilnya: hadits Abu Sa’id al-Khudry:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اسْتَجَدَّ ثَوْبًا سَمَّاهُ بِاسْمِهِ إِمَّا قَمِيصًا أَوْ عِمَامَةً، ثُمَّ يَقُولُ: “اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ”.
“Jika Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam memakai pakaian baru, beliau menyebutkannya, entah itu baju atau sorban, lalu membaca, “Allôhumma lakal hamdu Anta kasautanîhi, as’aluka min khoirihi wa khoiri mâ shuni’a lah, wa a’ûdzubika min syarrihi wa syarri mâ shuni’a lah (Ya Allah, kepunyaan-Mu lah segala pujian. Engkau yang telah memberiku pakaian ini. Aku memohon pada-Mu kebaikan pakaian ini dan tujuan pembuatannya, serta aku memohon perlindungan pada-Mu dari keburukannya dan keburukan tujuan pembuatannya)”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Imam an-Nawawy[2].


7. Saat bersin.
Bersin merupakan salah satu nikmat besar Allah atas para hamba-Nya, dengan bersin seorang hamba bisa mengeluarkan sesuatu dalam hidung yang jika dibiarkan bisa berbahaya bagi tubuh. Karena itulah, ketika bersin, seorang hamba diperintahkan untuk memuji Allah dengan mengucapkan hamdalah.

Dalilnya: Sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam,
“إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَلْيَقُلْ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ”، وَلْيَقُلْ لَهُ أَخُوهُ أَوْ صَاحِبُهُ: “يَرْحَمُكَ اللَّهُ” فَإِذَا قَالَ لَهُ يَرْحَمُكَ اللَّهُ فَلْيَقُلْ: “يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ”.
 ”Jika salah satu kalian bersin ucapkanlah, “Alhamdulillah”. Temannya hendaklah mengatakan, “Yarhamukallôh (Semoga Allah merahmatimu)”. Jika temannya membalas demikian, hendaknya ia mengucapkan “Yahdîkumullôhu wa yushlihu bâlakum (Semoga Allah mengaruniakan padamu petunjuk dan memperbaiki hatimu)”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.
Namun apabila seseorang bersin lebih dari tiga kali, maka tidak perlu lagi mengucapkan “Yarhamukallôh”. Namun doakan untuknya kesembuhan; karena itu pertanda ia sedang sakit. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menerangkan,
“شَمِّتْ أَخَاكَ ثَلاَثًا، فَمَا زَادَ فَهُوَ زُكَامٌ”.
“Doakan saudaramu saat bersin tiga kali. Tetapi bila lebih, maka itu adalah sakit”. HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dan dinilai hasan oleh al-Albany.
Adapun jika orang yang bersin tidak mengucapkan “Alhamdulillah”, maka ia tidak berhak untuk didoakan “Yarhamukallôh”. Sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu’alaihiwasallam  di dalam sabdanya, “Jika salah satu di antara kalian bersin lalu ia mengucapkan “Alhamdulillah”, maka doakanlah “Yarhamukallôh”. Namun bila tidak mengucapkan “Alhamdulillah”, maka janganlah doakan “Yarhamukallôh”. HR. Muslim dari Abu Burdah radhiyallahu’anhu.
8. Ketika melihat orang lain mendapatkan cobaan baik dalam hal duniawi maupun agama.
Cobaan duniawi contohnya: cacat, buta, tuli dan yang semisal. Cobaan agama contohnya: tenggelam dalam kemaksiatan, bid’ah dan yang semisal.
Dalilnya: hadits Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu’alaihiwasallam,
“مَنْ رَأَى مُبْتَلًى فَقَالَ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا”؛ لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ الْبَلَاءُ”.
“Barang siapa melihat orang yang mendapatkan cobaan lalu ia mengucapkan, “Alhamdulillâhilladzî ‘âfânî mimmabtalâka bihi, wa faddholanî ‘alâ katsîrin mimman kholaqo tafdhîlâ (Segala puji bagi Allah yang telah menghindarkanku dari cobaan yang menimpamu, serta  memuliakanku dibanding banyak makhluk-Nya)”; niscaya ia tidak akan diuji dengan cobaan tersebut”. HR. Tirmidzy dan dinyatakan hasan oleh beliau dan Syaikh al-Albany.
@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 20 Jumada Tsaniyah 1435 / 21 April 2014

DZIKIR YANG PALING UTAMA



Rosul bersabda “wahai sahabatku, maukah aku katakan amalan yang paling afdol?. Kemudian nabi menyebutkan keistimewan2…..dan menyebutkan amalan paling utama adalah dzikrullah”(HR tirmidzi) disahihkan oleh syeh al albany
Dzikir itu macam2 bentuknya, bukan Cuma laa ilaha ilallah, astaghfirullah. Smua ucapan yang baik adalah dzikir. Ucapan seorang istri yang mengingatkan suaminya yg tak sholat, itu adalah dzikir, berdoa juga dikategorikan dzikir.
Diantara dzikir2 tersebut, ada dzikir yang paling afdol. Para ulama menjelaskan bahwa membaca al quran adalah dzikir yg paling afdol. Berdasar dalil
HR ahmad disahihkan oleh al alna’uf
Rosul bersabda,”kalimat paling afdol sesudah al Qur’an, kalimat tersebut adalah bagian al quran. Kalimat itu ada 4, tidak masalah akan mulai dari mana. Subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha ilallah, allahu akbar.”
Dalam hadis diatas disebutkan, 4 kalimat itu merupakan kalimat utama, Orang yang sering mengucapkan 4 kalimat ini, bagaikan menanam pohon di surga. Tapi 4 kalimat itu tetap kalah dibandingkan Al quran.
1.      Jika kita membaca Al quran, banyak ulama yg mewajibkan berwudu. Tapi jika membaca 4 kalimat itu, kita tak diwajibkan berwudhu , padahal 4 kalimat itu adalah bagian dari al quran. Itu salah satu bukti keutamaan dzikir al quran.
2.      Sebelum kita membaca al quran, kita disunahkan bersiwak, tapi tuk membaca 4 kalimat itu kita tidak disunahkan.
3.      Membaca al quran itu harus dengan tartil…
Itu menunjukkan bahwa untuk berdzikir Al quran, ada aturan2 yang harus dipatuhi, tapi tidak begitu dengan mengucapkan 4 kalimat itu. Maka perbanyaklah dzikir dengan Al quran.
Tapi masalahnya, apakah kita boleh disetiap waktu membaca Al quran?
Ada beberapa waktu dimana kita dzikir dengan al quran
1.      Sehabis sholat
Membaca al quran disini bukan langsung setelah sholat. Tapi sehabis kita berdzikir sesuai tuntunan rosul. Yaitu , istighfar, tahmid, tahlil, takbir….baru kita boleh membaca Al Quran. Itu yang lebih utama, karena tuntunan rosul itu sehabis sholat adalah berdzikir membaca istighfar, tahmid, tahlil,takbir. Disini pentingnya kita menempatkan diri. Walau membaca Al Quran itu sangat amat penting, tapi kita tetap harus memperhatikan sunah rosulnya. Jadi tak selamanya membaca Al quran itu no 1.
Misal yang lain, ketikah ruku atau sujud, kita lebih utama membaca tasbih.
Rosul;”sy dilarang Allah membaca Al quran ketika ruku dan sujud, ketika ruku agungkanlah Allah. Bacalah subhanallah robial ‘adzim saat ruku, saat sujud perbanyakla doa(setelah baca subhanallah robial a’la)” (HR Muslim)
“Barang siapa mencari keridhoan Allah, “walaupun orang2 disekelilingnya membencinya maka Allah akan ridho kepada dia. Dan menjadikan orang2 di kemudian hari ridho padanya. Barang siapa mencari keridhoan manusia dengan melakukan hal2 yang dimurkai Allah. Allah akan murka pada orang2 seperti itu dan menjadikan manusia benci pada orang tersebut.”

AL QURAN DIPAHAMI BUKAN CUMA DIBACA
Membaca al quran seharusnya bisa membuat kita merasa nikmat, jika itu dilakukan dengan sepenuh hati. Jika kita masih belum merasakan nikmatnya membaca al quran, maka bisa jadi karena kita Cuma bisa membaca saja tapi tidak memahami isinya.
Alquran dituntut untuk dipahami, bukan Cuma di baca.
Dalil :
1.      Allah telah merintahkan pada kita untuk memahami al quran, dan dalil2 yang menunjukkan itu terlalu banyak. Diataranya 

Surat muhammad :24


 artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? 


Hadis Muslim
Rosul bersabda,”tidakla sekellompok orang berkumpul Allah  dan mereka membaca al quran dan mempelajari isinya.”
Orang-orang tesebut akan turun ketenangan hati mereka, akan turun kasih sayang allah, dan akan dikelilingi dan dipuji2 malaikat.
Maka para sahabat nabi itu, sangat enggan berpindah ke ayat lain jika belum memahami ayat alquran.

Diceritakan oleh imam ibnu mas’ud

Salah seorang diantara kami saat mempelajari 10 ayat, maka kami tak akan meninggalkan ayat2 tersebut sebelum kami memahami dan menghayatinya.
Jadi bukan masalah berlomba2 qatam dengan suara bagus tapi mereka tak paham artinya.
Diceritakan ibnu umar bin khatab
Dia membutuhkan waktu 8 tahun untuk menghafal surat al baqoroh. Orang se hebat umar, membutuhkan waktu bgt lama bukan karena beliau tak pandai menghafal. Tapi karena beliau memahami betul artina.
Para ulama kita dulu jg seperti itu, tabi’in mastruh bin al a’dah. Beliau  demi mencari tafsir sebuat ayat, beliau rela menempuh berjalan ke kota basrah (irak)yg jaraknya ribuan kilometer. Begitu sampai di kota basrah, maka diberitahukan bhw orang yg kamu cari lagi pergi ke kota syam(libanon). Coba bayangkan...sudah cape ribuan kilometer, tapi tak bertemu. Tapi dia  tak putus asa, dia kembali berjalan ke negeri syam untuk demi satu tafsir ayat.
2.      Karena Rosulullah membaca al quran sambil memahaminya
Diceritakan hudzaifah, ketika rosul membaca surat yg melewati ayat yang ttg kasih sayang allah, maka rosul segera memohon, ketika melewati ayat siksa, rosul memohon perlindungan, seandainya melewati ayat yang menyusucikan Allah, beliau bertasbih.   (HR An Nasai )dinilah sahih oleh ibnu al husaimah dan al albany. 

Diceritakan oleh para sahabat, nabi kalau sholat sering menangis. Spt diceritakan oleh abdullah ayahnya al muttoriq, sy ke rumah rosul dan nabi sedang sholat.

ADAB MEMBACA ALQURAN
Al quran merupakan kitab yg istimewa, karena keutamaan al quran sama dengan keutamaan Allah, seperti yg diceritakan olehnAbdulah abdul rohman as syulami ra.
1.      Membaca al quran harus ikhlas
Membaca al quran merupakan adab yg pertama. Tapi sayang jarang diamalkan. Padahal allah telah memerintahkkan. Dan membaca itu harus dilakukan dengan ikhllas. Tanpa keikhlasan ibadah apapun tidak akan mendatangkan pahala.
Dalam sebuah hadis yang sahih Rosul bersabda, orang yg masuk neraka pertama kali ada 3, pertama orang yg rajin berinfak, orang yg  membaca al quran dan mengajarkannya, ke tiga orang yg berjihad. Mereka berinfak karena ingin di puji, mereka membaca al quran supaya dipuji, mereka berjihad karena ingin dikatakan hebat. Maka Allah berkata, “dusta kamu, dulu kamu melakukan itu karena ingin dipuji” maka diseretlah mereka ke neraka.

Maka disini sangat penting sekali niat dalam beribadah, Kata imam sufyan asy sauri, “sy itu tak pernah susah mengatur sesuatu selain niat”.
2.      Berwudhu
Jika seorang muslim ingin memegang mushaf al quran sebaiknya menyentuhnya dalam keadaan suci.
Surat al waaqiah 79
žArtinya : "tidak menyentuhnya kecuali yang disucikan"
Yg tak boleh disentuh disini menurut banyak ulama adalah lauhul ma’fud. Lauhul ma’fudz adalah al quran yg ada disisi allah. Dan yang suci adalah malaikat. Kt syaiful islam ibnu taimiyyah adalah lauhul ma’fudz yg ada di atas itu sama dengan ada yg didunia.
Rosul bersabda, hendaknya tidak menyentuh al quran kecuali orang dlm keadaan suci
Hr malik, disahihkan oleh syeh al albany

Maka mayoritas ulama 4 madzhab, menyatakan tidak boleh memegang al quran kec dalam keadaan suci. Tetapi jika kita membaca al quran tanpa memegang al quran itu dibolehkan.
 
HR bukhari muslim

Ibnu abbas bercerita, pada saat sy menginap, di tengah malam sy melihat rosul bangun, ketika bangun beliau mengusap mukanya, kemudian membaca 10 ayat terakhir surat ali imron. Baru beliau berwudhu.”

Bagamana bila dalam keadaan junub? Junub ada 2 macam bisa krn mimpi atau habis melakukan hubungan suami istri. Dalam keadaan ini, maka tidak boleh sama sekali membaca al quran baik memegang al quran atau tidak.
HR tirmidzi dinyatakan hasan oleh beliau

Rosul membacakan kpd kami dalam keadaan kondisi, kecuali dalam 1 kondisi yaitu dalam keadaan junub.

Jk wanita dalam keadan haid atau nifas?
Insya allah diperbolehkan membaca al quran tapi tidak boleh memegangnya. Knapa disini boleh? Karena tidak ditemukan dalil yg melarang wanita dalam keadaan haid atau nifas membaca al quran.
Ibadah yg ga baleh utk wanita haid
-sholat,puasa, towaf, i’tikaf, jima’, membaca al quran dg memegang.

3.       Membersihkan mulut dg siwak
Jika terpaksa tidak ada siwak, maka dibolehkan menggunakan sikat gigi. Krn intinya adalah membersihkan mulut.
Dalam suatu hadis, sesungguhnya malaikat itu merasa terganggu dg sesuatu yg mengganggu manusia.
Dalil :
Hadis hudzaifah dalam shohih bukari muslim
Sesungguhnya nabi SAW jk bangun malam untuk tahajud, nabi akan membersihkan mulutnya dengan siwak
Jadi nabi sangat menjaga kebersihan dankesegaran mulutnya, apalagi ini akan bermunajad kepada Allah. Dan nabi tak hanya saat akan membaca al quran aja, dalam berbagai kondisi nabipun bersiwak
Hr muslim

Aisyah berkata, nabi jika  masuk ke rumah yg pertama kali dilakukan adalah bersiwak.


4.       Mengucapkan istiadzah (audzubillahiminnasyaitoonirrojiim) dan bismilah
Dalilnya
Surat an nahl ; 98

“seandainya kalian akan membaca al quran, maka beristiadzahlah.
HR abu dawud sahih syeh al albani
Nabi jika akan membaca al quran membaca istiadzah.
 Apa manfaatnya;
-          Agar syetan2 itu menjauh dari kita, sehingga kita akan mudah bertadabur(menghayati) ayat al quran.
 
5.       Membaca al quran dengan cara tartil dan tidak cepat
Surat al muzzamil; 4
“bacalah al quran dg cara yg tartil. “
Maksudnya tartil adalah membaca dengan perlahan, tidak tergesa2, memperhatikan huruf dan harokat yg dibaca.
Ada sebagian orang yg bangga membaca dengan cepat, bergumam itu smua tak sesuai dg perintah allah
Maka dalam sebuah HR bukhari
Manakala anas bin malik ditanya, wahai anas, cara nabi membaca al quran spt apa? Anas menjawab, “nabi membaca al quran dengan dipanjangkan.”  Seperti apa?
Kemudian anas membaca, bismillaahirromaanirrohiiim. Dan beliau membaca ayat per ayat. Tujuan smua itu adalah supaya kita bisa lebih sempurna dalam memahami al quran.
Oleh karena itu para ulama jaman dahulu, tak suka membaca dengan cepat krn akan melewati makna dari al quran. Banyak orang rajin membaca al quran tapi tidak pernah bisa membawa perubahan pada perilakunya.
Jika kita membaca dg memahami al quran, maka akan ada perubahan perilakunya. misalnya
Surat al fajr; 15-16
“adapun manusia kalau mereka diuji oleh Allah diberi rizki, merka akan bilang allah itu sayang sama sy. Tapi jika kita lagi diuji oleh Allah dengan dikurangi rizkinya, maka mereka  akan bilang bhw Allah tidak sayang pd sy.”
Saat kita membaca ayat tersebut, dan kita pahami maka kita akan tetap yakin kalau Allah sayang pada kita walau rizki kita tak banyak.

6.       Membaca al quran dengan suara yg bagus dan merdu
Hr abu dawud sahih oleh syeh al albany
Rosul bersabda,hiasilah al quran dengan suaramu.
Al quran sudah indah, tapi hiasilah dengan suara kita. Sehingga orang yg mendengarkan akan menjadi tersentuh.
Hr bukhari muslim
Rosul bersabda, bukan termasuk umatku orang yg tak melagukan al quran.
Maksudnya disiini, kita lakukan semampunya untuk membaca dg jelas, panjang pendeknya jelas, tajwidnya jelas, ma’rojnya benar.
Ada cerita dari seorang yg ikut MTQ dan dia sudah belajar di arab. Bertemulah dg juri, kata juri bahwa orang indonesia suaranya kalau baca itu baguuus, tapi sayang ma’rojnya banyak yang salah
Jadi bukan masalah suaranya melengking bagus, tapi harus sesuai dengan tajwid dan ma’roj yg benar.
7.       Membaca al quran dengan khusyu
Artinya saat kita membaca al quran, kita betul2 meresapi dan hayati . ini jg berlaku saat kita mendengar bacaan al quran.
Rosul jika mendengarkan para sahabat membaca al quran, beliau sampai menangis krn begitu menghayati isinya.
Surat al isro ayat ;109
arti : Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu´. 
8.       Bertasbih saat membaca ayat tasbih, berta’awudz ketika membaca ayat adzab, dan memohon pd allah jk bertemu ayat rahmat.
Contoh, saat membaca surat al a’la pd ayat pertama
“bertasbihlah, sucikanlah allah robb yg maha tinggi”, maka saat itu disunahkan membaca subhanallah.
Misal lain, jk ada ayat ttg penghuni neraka,ttg siksa neraka maka kita disunahkan membaca ta’awudz
Begiitu jg saat kita membaca ayat ttg rahmat, misal ketika allah bercerita ttg surga. Maka kita disunahkan memohon pada allah.

Hudzaifah ra, berkata, jk rosul melewati ayat ttg kasih sayang allah, surga allah, maka beliau meminta untuk dimasukan ke surga, berikanlah kasih sayangmu. Dan seandainya melewati ayat adzab, beliau langsung meminta perlindungan.
HR an nasai disahihkan oleh syeh al albany


9.       Sujud jk melewati ayat sajadah
Ayat sajadah adalah ayat yg isinya cerita kisah ttg orang2 yg sujud pada allah, atau perintah untuk sujud.
Contoh paling gampang adalah akhir surat al ‘alaq
Maka saat itu kita disunahkan untuk sujud tilawah. Dalam al quran ada 15 tempat untuk sujud tilawah. Tapi ini sunah, jd kalau ga melak jg ga pa2. Tapi usahakan diamalkan. Baca sujud tilawah adalah sama dg sujud dalam sholat, “subhana robi’al a’la “. Setelah itu bisa ditambahkan doa yg  biasa diucapkan oleh rosuluulah, namun seandainya tidak hafal, cukup mengucapkan subhanallah robial a’la 3x
10.   Berhenti membaca saat kita mengantuk
HR muslim
Rosul bersabda,” kalau kalian sholat malam, kemudian lisannya tidak jelas dalam membaca al quran, dan dia tidak sadar apa yg dia baca, hendakla dia kembali tidur sampai ngantuknya hilang

Dalam hadis lain, rosul bersabda, bisa  jadi dia niatnya minta ampun maka lisannya salah dan dia malah mencaci dirinya.
Kata para ulama, ketika sedang menguap, kita juga diharuskan berhenti membaca dulu.
11.   Dianjurkan membuat jangka waktu tertentu untuk mengkhatamkan al quran
Coba kita buat target, kita mo khatam 1 buan sekalii, 1 minggu sekali,.
HR bukhari
Rosul bersabda, coba khatamkan al quran dalam 1 bulan. Kemudian abdulan ibnu amr berkata, wahai rosul sy masih kuat untuk baca lebih  cepat dari itu. Ya sudah, khatamkan al quran selama 7 hari. Abdulah datang lagi, wahai rosul, sy masih kuat lagij. “ya sudah khatamkan al quran dalam 3 hari.”
12.   Disunahkan mengeraskan bacaaan jk tak menganggu
Rosul suatu saat keluar malam dan melewati rumah abu bakar, ternyata abu bakar sedang sholat malam, dan membaca dengan sangat lirih. Kemudian melanjutkan ke rumah umar, ternyata jg sedang sholat malam dan diia membaca dg suara keras. Ke esokan harinya nabi memanggil keduanya. Dan berkata,”wahai abubakar, sy td malam lewat rumah kamu, kenapa membaca sangat lirih?”
Wahai rosul, sy ketika membaca sudah didengar sama allah, maka tak perlu keras2.
“wahai umar, sy lwt rumah kamu dan membaca dengan suara keras. Kenapa?”
Sy mengeraskan bacaan dengan 2 tujuan, pertama membangunkan keluarga sy yg masih mengantuk dan mengusir syetan.”
Kemudian nabi berkata,” wahai abubakar, angkat suaramu sedikit. Wahai  umar, turunkan suaramu sedikit”
Imam al nawawi dalam kitabnya mengatakkan, ada dalil2 yg memotivasi kita untuk mengeraskan suara membaca al quran, tapi ada jg dalil2 yg memotivasi dg membaca suara yg lirih. Kta al nawawi, bagi mereka yg takut riya, bacalah dengan suara lirih. Bagii yg takut riya, bacalah dg suara keras.
Husaid al kudry berkata, pada suatu rosul bertiktikaf di masjid, ketika ber i’tikaf beliau mendengar para sahabat membaca al quran dg suara keras. Bgt nabi mendengar tsb, beliau membuka tirai, “ketahuilah para sahabat, sesungguhnya kalian sedang bermunajad pada Allah maka janganlah kalian saling mengganggu. Janganlan keras2 dalam membaca bacaan.”Hr abu dawud disahihkan oleh imam khuzaimah dan syeh al albany
Membaca dalam istiralah arab, adalah menggerakan bibir entah dengan suara lirih atau keras. Kalau kita membaca al quran tp bibirnya tak digerakan, maka kita tak akan mendapat pahala membaca pahala.
13.   Diperbolehkan bagi kita untuk membaca sambil duduk, berdiri, berjalan, berbaring atau saat naik kendaraan
Surat ali imron 191
“orang2 yang berdzikir mengingat allah ketika sedang berdiri, duduk, dan berbaring.”
Dzikir yg paling afdol adalah membaca al quran. Disebutkan dalam
Surat al hijr ;9
Dan ini diamalkan oleh para sahabat rosul
Pada suatu muadz bin jabal bertemu abu musa, wahai abumusa, bagaimana cara engkau membaca al quran.
Abu musa.”aku membaca al quran sambil berdiri, duduk, dan ketika di kendaraan. Dan aku membaca al quran sedikit demi sedikit. Lha kamu bagaimana muadz?
Muadz, kalau saya malam tidur dulu, setelah seger bangun baru sy baca al quran. Tapi sy ketika tidur sy mengharapkan dari tidurku mendapat pahala, sama ketika sy mengharap pahala ketiika membaca al quran.

Bagaimana caranya  tidur mendapat pahala?krn sebelum tidur dia berniat. “wahai robbi, sy diawal malam segera tidur supaya tubuh dan badan ssy segar sehingga di awal malam sy ringan dan segera bangun”
Hr bukhari muslim

Wahai manusia, hendaklah kalian beramal dengan amalan yg kalian mampu jangan melebihi kemampuan kalian, sesungguhnya allah itu tidakakan bosan sekalipun kalian merasa bosan. Sesungguhna amalan yg paling dicintai allah adalah amalan yg terus menerus walaupun sedikit.