Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 September 2014

DASYATNYA 10 HARI AWAL BULAN DZULHIJJAH

Allah memberikan waktu2 istimewa untuk kita, di setiap waktu selalu ada. Ada waktu istimewa yang bersifat harian seperti di 1/3 malam terakhir. Bahkan di waktu itu, Allah sendiri turun ke langit bumi untuk mendengarkan doa para hambanya. Dalam sebuah hadis qudsi Allah befirman “ Apakah ada hambaku yang berdoa pasti Aku kabulkan”.
Ada yang mingguan yaitu di hari Jum’at, ada yang tahunan yaitu bulan ramadhan dan malam lailatul qodar. Nah…..10 hari di awal bulan dzulhijjah ini adalah salah satu  dari beberapa waktu2 istimewa yang dijanjikan Allah swt. Dalilnya
1.       Surat al Fajr 1-2
“ Demi waktu fajar. Demi 10 malam”
Kt imam ibnu katsir; yg dimaksud 10 malam adalah 10 malam yang ada dalam awal bulan dzulhijjah, sebagaimana diriwayatkan oleh ibnu abbas ra, ibn zubair jg ulama2 salaf yg lain sebagaimana dinukil oleh imam ibn katsir rahimatulullah.
Allah itu Maha Agung, jadi kalau bersumpah PASTI dengan makhluk2nya yang AGUNG. Termasuk 10 hari di awal bulan dzulhijjah.
2.       Hr abu dawud sahih oleh imam ibn hibban, ibn khuzaimah dan syeh al albani
       Sebenarnya dalam riwayat Bukharipun ada, tapi ini yang saya bawakan adalah riwayat abu dawud.
Rosul bersabda “ Tidak ada Amalan yg lebih dicintai Allah melebihi  amalan yang dilakukan seorang hamba di 10 hari awal bulan dzulhijjah” sahabat bertanya “ Termasuk jihad?”. Rosul menjawab “ Meskipun jihad. Kecuali orang yang pergi berjihad dengan membawa harta dan nyawanya, kemudian dia meninggal”.
Selama ini kita mengenal bahwa Jihad adalah puncak keimanan tertinggi, itupun masih kalah pahalanya jika dibandingkan dengan amalan2 di 10 hari awal bulan dzulhijjah.

Maka para ulama, diantaranya imam sahih ibn zubair. Beliau jika memasuki 10 hari awal bulan dzulhijjah itu sangat bersungguh2 sekali dalam beramal, sampai beliau merasa sangat tak mampu melaksanakannya.
Imam Abu zulhah Ar rozi, beliau adalah pakar hadis. beliau pernah ditanya orang ttg sebuah hadis yg dhoif. Tapi imama abu zulhah merasa tak tega untuk sekedar menjawab bahwa hadis itu dhoif.
Kenapa 10 hari awal bulan dzulhijjah dikatakan itu hari istimewa? Kt imam ibn hajjar asqoolani, di hari2 itu ada banyak amalan sekali amalan, ada umroh, haji, sholat ied, qurban, puasa dll.
Coba bandingkan mana yg lebih istimewa 10 hari awal bulan dzulhijjah dengan 10hari terahir bulan ramadan? Kt imam ibn qoyim al jauziyah berkata “ jika siang harinya itu akan lebih istimewa 10 hari awal bulan dzulhijjah, tapi dimalam hari lebih istimewa 10 hari terakhir bulan ramadhan”.
Apa saja yg bisa dilakukan di 10 hari pertama bulan dzulhijjah ?
1.       Memperbanyak Amal Sholeh
Dalilnya adalah hadis yang sudah disebutkan diatas. Amal sholeh sangat banyak bisa dilakukan di awal bulan dzulhijjah, bisa sholat, puasa, sodaqoh, membaca al Quran, mengajar kajian islam, dzikir. Amal sholeh disini adalah amal sholeh yang ada tuntunannya dari Rosulullah, bukan asal amal sholeh.
2.       Perbanyak zikir
Hr ahmad dinyatakan sahih oleh syeh ahmad syakir
Rosul bersabda,” tidak ada amalan yang lebih utama dibanding 10 awal hari dzulhijjah, perbanyaklah bertakbir, tahlil dan tahmid”.
Ini bukan berarti “subhanallah” itu tak boleh, itu juga boleh karena itu amal sholeh. Tp diutamakan yg diajarkan.
Hr bukhari
Bahwa ibn umar dan abu hurirah, mereka pergi ke pasar jika sudah memasuki 10 awal bulan dzulhijjah. Mereka berdua bertakbir, sampai orang2 ikut bertakbir mendengar suara abu hurairah dan ibn umar.
Ini adalah termasuk hadis yang dimana berzikir itu boleh dikeraskan. Sampai kapan takbir itu bisa dilakukan? Takbir bisa dilakukan tgl 1-  13 dzulhijjah.
Dari ibn umar
Bahwa Umar dulu bertakbir setelah salat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai setelah zuhur pada tanggal 13 Dzulhijjah. (Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi dan sanadnya disahihkan al-Albani).

Namun ada beberapa atsar para sahabat yg melakukan di tanggal 9 – 13. Diantaranya
Bahwa Ibnu Abbas bertakbir setelah salat subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah sampai tanggal 13 Dzulhijjah. Ia tidak bertakbir setelah maghrib (malam tanggal 14 Dzluhijjah). (HR Ibnu Abi Syaibah dan Al-Baihaqi. Al-Albani mengatakan, “Sanadnya sahih”).
Selain itu Ali bin abi tholib dan abdullah ibn mas’ud juga bertakbir di tanggal 9-13 bulan dzulhijjah.
3.       Perbanyak Puasa
Puasa adalah termasuk amal sholeh, shg disarankan untuk dilakukan. Memperbanyak puasa di 9 hari pertama bulan dzulhijjah.
Dari Ummul Mukminin, Hafshah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, dan tiga hari tiap bulan. (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Ahmad, dan disahihkan Al-Albani).

Namun yang paling utama adalah Puasa Arafah, yaitu di tanggal 9 Dzulhijjah.
Ada sebuah hadis yg dinilai sahih oleh sebagian ulama
“ bahwa nabi berpuasa di 9 hari bulan dzulhijjah”
Hr ahmad dan muslim
Rosul bersabda “ puasa di bulan arafah akan menghapuskan dosa 1th yg lampau dan 1th yg akan datang”
4.       Sholat idul adha
Dr anas bin malik ra
Ketika nabi datang ke kota madinah, beliau menemukan orang2 disana merayakan 2 hari. Maka nabi bertanya “ apa 2 hari ini?”. Mereka menjawab “ 2 hari ini kami khususkan untuk bersenang2 di jaman jahiliyah dulu. Maka rosul bersabda” wahai sahabatku, Allah telah memberi ganti yg lebih baik yaitu idul fitri dan idul adha”
Hr an nasai sahih oleh syeh al albani
5.       Menyembelih hewan qurban.
Berqurban itu diwajibkan bagi yang mampu. Sebagian ulama menyatakan hukumnya sunnah muakad atau sunah yang sangat ditekankan.  Namun perlu hati2 terhadap niat dalam berqurban, jika niatnya itu salah bisa2 pahalanya tidak akan dapat. Dan audzubillah mindzalik bisa jadi nanti malah ibadah2 itu akan dijadikan debu beterbangan di akhirat kelak.

Rabu, 13 Agustus 2014

PUASA DI BULAN SYAWAL

Kita dituntut untuk serius dalam beramal, dengan harapan supaya amalan kita bisa diterima oleh Allah. Dan supaya amalan bisa diterima, kita harus mengikhlaskan ibadah kepada Allah serta harus sesuai dengan tuntunan Rosulullah. Jika seandainya kita sudah iklas dan melaksanakan sesuai dengan tuntunan rosululah, maka kita berserah diri kepada Allah. Sangat tidak layak seandainya kita berkeyakinan bahwa ibadah kita pasti diterima, Kenapa begitu?
-          Karena masalah diterima atau tidak amal kita itu hak preogatif Allah
-          Sehebat apapun ibadah yg kita lakukan pasti ada kekurangan karena manusia diciptakan sebagai manusia yg lemah (surat an nisa ; 28)
Namun begitu, kita dibolehkan untuk berbaik sangka pada allah.  Seperti firman Allah dalam sebuah hadis qudsi
Hr bukhari muslim (hadis qudsi )
Allah berfirman “ AKU tergantung bagaimana hambaKU berprasangka padaKU, jika hambaku berprasangka baik maka AKU akan baik, tapi jika hambaku berprasangka jelek maka AKUpun begitu”
Kita Memang tidak tau apa amalan kita diterima atau tidak, namun para ulama memberi petunjuk bahwa ada pertanda2 amalan kita diterima Allah.
Diantara tandanya adalah “Setelah kita beramal, kita akan langsung disertai dengan amal sholeh lainnya”.
Contoh, kita melakukan Qurban, nah….setelah itu kita tetap sedekah atau tidak? Kalau habis qurban kita tak melakukan sedekah2 lain, maka dikhawatirkan ibadah qurban kita tidak diterima. Terkait dengan Bulan Ramadhan, banyak sekali ibadah di bulan ramadhan spt Puasa, sholat, shodakoh, zakat, baca Al quran dll. Disini kita bisa melihat kaitannya pauasa romadhan dan puasa syawal, bahwa ini menjadi tolak ukur apakah kita setelah puasa ramadhan terus langsung dilanjutkan dengan puasa syawal? Jadi hikmahnya agar kita tidak berhenti berpuasa walaupun ramadhan sudah selesai.
Dalil puasa syawal
HR Muslim
Rosul bersabda, “ Barang siapa berpuasa ramadhan kemudian dilanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan syawal, maka sungguh apa yg dia lakukan itu seperti pahala puasa sepanjang masa (1 tahun).”
Hr ibn khuzaimah sahih oleh al a’dhoi
Rosul bersabda, “ puasa bulan ramadhan itu pahalanya sama dengan puasa 10 bulan, sedang 6 hari di bulan syawal itu sama dengan puasa 2 bulan”
Bagaimana penjelasannya kok bisa berpahala 1 tahun? Puasa ramadan itu 30 hari, tiap kebaikan itu pahalanya dilipatkan 10x. Maka 30 hari x 10 = 300 hari/ 10 bulan. 6 hari puasa syawal x 10 = 60 hari/ 2 bulan. Sehingga jika ditotal puasa ramadan + puasa syawal = 360hari/12 bulan
“Seperti pahala puasa 1 penuh” itu kata sebagian ulama syafi’iyah yg dimaksud pahala puasa adalah pahala puasa wajib.
Fungsi lain dari puasa syawal adalah untuk menyempurnakan puasa Ramadhan. Krn kita manusia sangat lemah sehingga sangat mungkin puasa ramadhan kita tak sempurna
Hr ibn majjah sahih oleh syeh al albani
Rosul bersabda “ amalan yg pertama kali dihisab oleh Allah di hari kiamat adalah sholat wajib, seandainya sempurna maka ditulis sempurna, jika banyak kekurangannya maka Allah akan berkata “ coba periksa dalam buku catatan, apakan orang ini py sholat sunnah?” dan ini digunakan untuk menyempurnakan sholat wajibnya. Dan seluruh ibadah wajib diperlakukan seperti itu”
Maksudnya smua ibadah spt haji, shodaqoh, zakat, puasa dll itu juga harus dipelakukan seperti ibadah Sholat seperti hadis diatas. Oleh karena itu ini menjadi penting kita melaksanakan ibadah2 sunnah.
SAHIHKAH HADIS INI?
Ada beberapa orang yg meragukan kesahihan hadis muslim ttg keutamaan puasa syawal diatas.  Mereka berpendapat bahwa hadis muslim ttg puasa syawal diatas lemah dari sisi sanad maupun matan hadisnya. Bagaimana menjawabnya ? mari kita bahas satu persatu.
Sanad
Kt mereka didalamnya ada perowi yg bernama Saad bin said al anshori. Saad bin said dinyatakan dhoif oleh 2 ulama yaitu imam ahmad dan imam an nasai.
Jawabannya :
1.       Dari semua imam besar pakar hadis, yg menyatakan dhoif thd saad itu Cuma 2 orang, sedang ulama2 besar lain berpendapat baik. Seperti imam daruqutni, imam yahya ibn mail, imam ibn sa’ad, imam muslim dll yg jumlahnya sampai 7 orang.
2.       Saad bin said ini tidak sendirian yg meriwayatkan hadisnya, ada teman-teman saad dan mereka2 itu adalah teman2 saad yg hapalannya kuat, yaitu diantarannya adalah sofwan bin sulaim, , yahya ibn al anshori dll. Bahkan disebutkan ada sampai 20 orang yg meriwayatkan hadis ini.
3.       Hadis ini dinilai sahih oleh lebih satu ulama selain imam muslim, antara lain
Imam muslim, Imam At tirmidzi, imam  an nawawi ,imam al dimya’I,  imam al ala’i , imam al hafid ar iroqi, imam al kurtuby dan masih banyak imam besar yg lain.
Ulama kontemporer;  syeh al albani.
Matan hadis
Dalam hadis diatas disebutkan bahwa “ Puasa ramadan dan dilanjutkan dengan puasa syawal maka pahalanya sama dengan puasa 1 th penuh”. Padahal Nabi melarang orang yg berpuasa terus menerus selama satu tahun, nabi bersabda dalam hadis bukhari muslim.
Jawabnya :
1.       Jika sebuah hadis itu sahih maka tak mungkin 2 hadis itu akan berlawanan. Karena nabi memperolehnya dari Allah.
2.       Saat mengatakan “seperti puasa 1 tahun”, ini nabi sedang bicara pahalanya bukan perbuatan puasanya.
Perkataan imam Malik dalam kitabnya Al Mutho’
“ aku tak melihat seorangpun dari ulama yg puasa 6 bulan syawal, sehingga ulama tak mengajurkan karena takut itu adalah bid’ah krn takut ada org jahil yang menggabungkan puasa ramadhan dengan syawal”
Jawabannya :
1.       Bisa jadi imam malik belum mendengar hadis ttg puasa syawal
Krn tak ada ulama yang hapal seluruhnya hadis2 nabi.  Sehingga kata imam abdil bar “ mungkin imam malik belum mendengar ayat ini”.
2.       Bila kita sudah mendengar suatu hadis, maka kita tak boleh meninggalkan hadis itu hanya karena ada orang yang tak mengamalkan
3.       Mayoritas ulama mengamalkan puasa syawal itu

Selasa, 03 Juni 2014

MERASAKAN INDAHNYA BULAN RAMADHAN




Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, sehingga sepatutnya orang muslim itu menantikan bulan ini. Tapi sayang, banyak dari orang muslim yang kurang memperhatikannya bahkan ada sebagian orang yang jika bulan ramadhan datang akan berkata “ahhhhh kok puasa lagi”.
Padahal para ulama dahulu itu bersiap menjemput bulan ramdhan sejak 6 bulan sebelumnya. Mereka berdoa pada allah agar diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan ramadhan.
Begitu luar biasanya bulan ramadhan itu di katakan oleh rosulullah
HR bukharimuslim
Rosul bersabda,”Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan dihapuskan dosanya yang telah lampau”
HR imam ibnu majjah dinyatakan hasan sahih oleh syeh al albany
Rosul bersabda,”banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan rasa haus dan dahaga saja”
Itulah golongan orang2 yang merugi, mereka berpuasa tapi tidak ada manfaat yang didapat dan dosanya tetap sama tidak berkurang. Bagaimana agar kita bisa merasakan indahnya hari ramadhan?
1.       Berusaha untuk memperbesar dan mempertebal rasa tawakal kepada Allah
Tawakal adalah menggantungkan diri kepada Allah. Knp kita harus mempertebal tawakal kita, karena di hari ramadhan banyak sekali amalan ibadah2 yang kita sangat memerlukan bantuan Allah. Seperti  sholat tarawih, tadarus, berpuasa, infaq dll. Dan tak mungkin kita bisa berjumpa dengan hari ramadhan jika Allah tidak mengendakinya. Dan banyak juga yang ketika bertemu dengan bulan ramadhan tapi dia tidak bisa memanfaatkannya. Itulah kenapa kita selalu memerlukan Allah. Supaya Allah tetap menjaga iman kita dan bisa memanfaatkan bulan ramadhan dg baik.
2.       Bertaubat sebelum ramadhan itu datang
Dalil :
Surat at tahrim; 8
66_8.GIF

Artinya : “ wahai orang2 yang beriman, bertaubatlah kepada allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”
Disebutkan dalam Hadis, bhw allah membuka pintu tobatnya di siang dan malam hari. Karena tak mungkin kita sebagai manusia itu tidak berdosa.
HR tirmidzi dinyatakan sahih oleh al hakim
Rosul bersabda,”setiap keturunan anak nabi adam itu banyak dosanya”
Bagaimana bahayanya dosa, dosa itu memberi efek salah satunya adalah membuat kita malas untuk beribadah. Dengan kita bertobat, maka kita akan memasuki bulan puasa dengan ringan dan penuh semangat.

3.       Membentengi puasa
Kita perlu membentengi diri dengan hal2 yang bisa mengurangi puasa, karena tak smua orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala utuh. Ini disebabkan karena mereka tidak sempurna dalam menjalankan puasa. Lantas apa yang bisa menggerogoti amal dari puasa? Tak lain adalah perbuatan maksiat, seperti diingatkan oleh rosulullah
HR bukhari
Rosul bersabda,”barang siapa berpuasa tapi dia tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, Allah itu tidak membutuhkan puasanya orang seperti itu”
Maka itu puasa tidak hanya urusan perut saja, makanya salah seorang sahabat rosul.
Makanya jabir bin abbdullah ra, pernah berkata
“saat berpuasa, telingga, mata, lisan, mulut itu berpuasa.”
4.       Memprioritaskan amalan yang hukumnya wajib
Karena amal yg hukumnya wajib itu lebih dicintai oleh Allah. Banyak orang yang salah, mereka lebih mementingkan sholat tarowih daripada sholat dhuhur atau ashar. Coba saja kita lihat perilaku orang2 pada saat bulan puasa. Saat sholat tarowih akan datang begitu banyak jamaah, tp saat sholat dhuhur atau ashar, masjid kembali kosong.

Sabtu, 24 Mei 2014

Tidur Orang Berpuasa Berpahala???

Banyak pandangan dimasyarakat yang berkembang secara turun temurun bahwa tidur di bulan puasa itu adalah berpahala, maka di bulan puasa banyak orang yang duduk di dalam masjid tapi mereka tidak berdzikir atau beribadah, mereka bersantai dan tiduran.
Disebagian kalangan bulan ramadhan dipenuhi dengan rasa malas, baik malas dalam bekerja ataupun beribadah.
Padahal banyak sekali kejadian-kejadian besar yang terjadi di dalam bulan ramadhan.
Peristiwa2 besar di bulan ramadhan
1.       Perang Badar th 2 H
Ini merupakan perang yang sangat fenomenal, dimana kaum muslimin yang berjumlah 300 org melawan kaum musrikin yg berjumlah 3x lipatnya. Tapi kaum muslim berhasil menaklukan kaum musyikin
2.       Perang penaklukan kota makah th 8 H
Rosul  berhasil menaklukan kota mekah dengan mudah, tanpa perlawanan berarti. Saat itu rosul membawa 10.000 pasukan.
3.       Perang Al Qodisiyah
Perang muslim dg orang Majusi di persia (iran, afganistan dsb), tahun 15 H.
4.       Perang islam menaklukan spanyol 92 H,
Ini membuktikan bahwa bulan puasa itu harus diisi dengan ibadah, dengan kerja keras. Jangan diisi dengan santai2 atau tiduran.
Banyak orang yg berpendapat : “LHO tidur kan ibadah ? masa dilarang?”
Disinilah salahnya, sangat disayangkan hal2 tersebut terus disebarkan berulang-ulang oleh para ulama. Sehingg itu menimbulkan kemalasan di kalangan kaum muslimin, mereka berpikir tidur itu adalah ibadah. Padahal hadis tersebut adalah dhoif.
HR al Baihaqi
“Tidurnya orang berpuasa adalah ibadah”
Para ulama menjelaskan bahwa salah satu perawinya Sulaiman ibn Amr  adalah orang yang suka memalsukan hadis. Kata imam ahmad bin hambal rahimatulullah, bahwa sulaiman ibn amr adalah pemalsu hadis.
Imam yahya ibnu ma’il, imam ibnu ‘adi, imam ibnu hibban, mereka semua menyatakan hadis itu adalah dhoif. Seperti yang dikutip oleh imam Syeh al albani dalam kitabnya silsilatul hadis al ahadi, beliau menyatakan hadis itu adalah dhoif.
Oleh karena itu, marila kita isi bulan puasa ramadhan itu dengan ibadah. Karena dibulan ramadhan itu terdapat banyak sekali rahmat dari Allah, akan sangat disayangkan bila kita melewatkan bulan tersebut dengan tidur yang sia-sia. Ini bukan berarti kita tidak boleh tidur, tapi maksudnya tidur disiang hari dengan niat “tidur itu adalah ibadah”.

Minggu, 04 Mei 2014

12 HADIS LEMAH SEPUTAR RAMADHAN

Islam adalah agama yang ilmiah. Setiap amalan, keyakinan, atau ajaran yang disandarkan kepada Islam harus memiliki dasar dari Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang otentik. Dengan ini, Islam tidak memberi celah kepada orang-orang yang beritikad buruk untuk menyusupkan pemikiran-pemikiran atau ajaran lain ke dalam ajaran Islam.
Karena pentingnya hal ini, tidak heran apabila Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan perkataan yang terkenal:
الإسناد من الدين، ولولا الإسناد؛ لقال من شاء ما شاء
“Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad, maka orang akan berkata semaunya.” (Lihat dalam Muqaddimah Shahih Muslim, Juz I, halaman 12)
Dengan adanya sanad, suatu perkataan tentang ajaran Islam dapat ditelusuri asal-muasalnya.
Oleh karena itu, penting sekali bagi umat muslim untuk memilah hadits-hadits, antara yang shahih dan yang dhaif, agar diketahui amalan mana yang seharusnya diamalkan karena memang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam serta amalan mana yang tidak perlu dihiraukan karena tidak pernah diajarkan oleh beliau.
Berkaitan dengan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, akan kami sampaikan beberapa hadits lemah dan palsu mengenai puasa yang banyak tersebar di masyarakat. Untuk memudahkan pembaca, kami tidak menjelaskan sisi kelemahan hadits, namun hanya akan menyebutkan kesimpulan para pakar hadits yang menelitinya. Pembaca yang ingin menelusuri sisi kelemahan hadits, dapat merujuk pada kitab para ulama yang bersangkutan.
Hadits 1
صوموا تصحوا
“Berpuasalah, kalian akan sehat.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di Ath Thibbun Nabawi sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), oleh Ath Thabrani di Al Ausath (2/225), oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (3/227).
Hadits ini dhaif (lemah), sebagaimana dikatakan oleh Al Hafidz Al Iraqi di Takhrijul Ihya (3/108), juga Al Albani di Silsilah Adh Dha’ifah (253). Bahkan Ash Shaghani agak berlebihan mengatakan hadits ini maudhu (palsu) dalam Maudhu’at Ash Shaghani (51).
Keterangan: jika memang terdapat penelitian ilmiah dari para ahli medis bahwa puasa itu dapat menyehatkan tubuh, makna dari hadits dhaif ini benar, namun tetap tidak boleh dianggap sebagai sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Hadits 2
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, do’anya dikabulkan, dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437).
Hadits ini dhaif, sebagaimana dikatakan Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (1/310). Al Albani juga mendhaifkan hadits ini dalam Silsilah Adh Dha’ifah (4696).
Terdapat juga riwayat yang lain:
الصائم في عبادة و إن كان راقدا على فراشه
“Orang yang berpuasa itu senantiasa dalam ibadah meskipun sedang tidur di atas ranjangnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam (18/172). Hadits ini juga dhaif, sebagaimana dikatakan oleh Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (653).
Yang benar, tidur adalah perkara mubah (boleh) dan bukan ritual ibadah. Maka, sebagaimana perkara mubah yang lain, tidur dapat bernilai ibadah jika diniatkan sebagai sarana penunjang ibadah. Misalnya, seseorang tidur karena khawatir tergoda untuk berbuka sebelum waktunya, atau tidur untuk mengistirahatkan tubuh agar kuat dalam beribadah.
Sebaliknya, tidak setiap tidur orang berpuasa itu bernilai ibadah. Sebagai contoh, tidur karena malas, atau tidur karena kekenyangan setelah sahur. Keduanya, tentu tidak bernilai ibadah, bahkan bisa dinilai sebagai tidur yang tercela. Maka, hendaknya seseorang menjadikan bulan ramadhan sebagai kesempatan baik untuk memperbanyak amal kebaikan, bukan bermalas-malasan.
Hadits 3
يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،
“Wahai manusia, bulan yang agung telah mendatangi kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari 1. 000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah tathawwu’ (sunnah). Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan,  ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, sedangkan kesabaran itu balasannya adalah surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong. Di dalamnya rezki seorang mukmin ditambah. Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberikan hidangan berbuka kepada seorang yang berpuasa, dosa-dosanya akan diampuni, diselamatkan dari api neraka dan memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tadi sedikitpun” Kemudian para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan hidangan berbuka berupa sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah (1887), oleh Al Mahamili dalam Amaliyyah (293), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (6/512), Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115)
Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (2/115), juga didhaifkan oleh Syaikh Ali Hasan Al Halabi di Sifatu Shaumin Nabiy (110), bahkan dikatakan oleh Abu Hatim Ar Razi dalam Al ‘Ilal (2/50) juga Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (871) bahwa hadits ini Munkar.
Yang benar, di seluruh waktu di bulan Ramadhan terdapat rahmah, seluruhnya terdapat ampunan Allah dan seluruhnya terdapat kesempatan bagi seorang mukmin untuk terbebas dari api neraka, tidak hanya sepertiganya. Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini adalah:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا ، غفر له ما تقدم من ذنبه
“Orang yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.38, Muslim, no.760)
Dalam hadits ini, disebutkan bahwa ampunan Allah tidak dibatasi hanya pada pertengahan Ramadhan saja. Lebih jelas lagi pada hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Rasulullah bersabda:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
“Pada awal malam bulan Ramadhan, setan-setan dan jin-jin jahat dibelenggu, pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Pintu surga dibuka, tidak ada satu pintu pun yang ditutup. Kemudian Allah menyeru: ‘wahai penggemar kebaikan, rauplah sebanyak mungkin, wahai penggemar keburukan, tahanlah dirimu’.  Allah pun memberikan pembebasan dari neraka bagi hamba-Nya. Dan itu terjadi setiap malam” (HR. Tirmidzi 682, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)
Adapun mengenai apa yang diyakini oleh sebagian orang, bahwa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, keyakinan ini tidaklah benar  berdasarkan hadits yang lemah ini. Walaupun keyakinan ini tidak benar, sesungguhnya Allah ta’ala melipatgandakan pahala amalan kebaikan berlipat ganda banyaknya, terutama ibadah puasa di bulan Ramadhan.
Hadits 4
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال : اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت فتقبل مني إنك أنت السميع العليم
“Biasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika berbuka membaca doa: Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu fataqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya (2358), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (4/1616), Ibnu Katsir dalam Irsyadul Faqih (289/1), Ibnul Mulaqqin dalam Badrul Munir (5/710)
Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Authar (4/301), juga oleh Al Albani di Dhaif Al Jami’ (4350). Dan doa dengan lafadz yang semisal, semua berkisar antara hadits lemah dan munkar.
Sedangkan doa berbuka puasa yang tersebar dimasyarakat dengan lafadz:
اللهم لك صمت و بك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين
“Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, atas rezeki-Mu aku berbuka, aku memohon Rahmat-Mu wahai Dzat yang Maha Penyayang.”
Hadits ini tidak terdapat di kitab hadits manapun. Atau dengan kata lain, ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Al Mulla Ali Al Qaari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatul Mashabih: “Adapun doa yang tersebar di masyarakat dengan tambahan ‘wabika aamantu’ sama sekali tidak ada asalnya, walau secara makna memang benar.”
Yang benar, doa berbuka puasa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terdapat dalam hadits:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
“Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika berbuka puasa membaca doa:
ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله
/Dzahabaz zhamaa-u wabtalatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insyaa Allah/
(‘Rasa haus telah hilang, kerongkongan telah basah, semoga pahala didapatkan. Insya Allah’)”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud (2357), Ad Daruquthni (2/401), dan dihasankan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/232 juga oleh Al Albani di Shahih Sunan Abi Daud.
Hadits 5
من أفطر يوما من رمضان من غير رخصة لم يقضه وإن صام الدهر كله
“Orang yang sengaja tidak berpuasa pada suatu hari  di bulan Ramadhan, padahal ia bukan orang yang diberi keringanan, ia tidak akan dapat mengganti puasanya meski berpuasa terus menerus.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari di Al’Ilal Al Kabir (116), oleh Abu Daud di Sunannya (2396), oleh Tirmidzi di Sunan-nya (723), Imam Ahmad di Al Mughni (4/367), Ad Daruquthni di Sunan-nya (2/441, 2/413), dan Al Baihaqi di Sunan-nya (4/228).
Hadits ini didhaifkan oleh Al Bukhari, Imam Ahmad, Ibnu Hazm di Al Muhalla (6/183), Al Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dalam At Tamhid (7/173), juga oleh Al Albani di Dhaif At Tirmidzi (723), Dhaif Abi Daud (2396), Dhaif Al Jami’ (5462) dan Silsilah Adh Dha’ifah (4557). Namun, memang sebagian ulama ada yang menshahihkan hadits ini seperti Abu Hatim Ar Razi di Al Ilal (2/17), juga ada yang menghasankan seperti Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah (2/329) dan Al Haitsami di Majma’ Az Zawaid (3/171). Oleh karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai ada-tidaknya qadha bagi orang yang sengaja tidak berpuasa.
Yang benar -wal ‘ilmu ‘indallah- adalah penjelasan Lajnah Daimah Lil Buhuts Wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia), yang menyatakan bahwa “Seseorang yang sengaja tidak berpuasa tanpa udzur syar’i,ia harus bertaubat kepada Allah dan mengganti puasa yang telah ditinggalkannya.” (Periksa: Fatawa Lajnah Daimah no. 16480, 9/191)
Hadits 6
لا تقولوا رمضان فإن رمضان اسم من أسماء الله تعالى ولكن قولوا شهر رمضان
“Jangan menyebut dengan ‘Ramadhan’ karena ia adalah salah satu nama Allah, namun sebutlah dengan ‘Bulan Ramadhan.’”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Sunan-nya (4/201), Adz Dzaahabi dalam Mizanul I’tidal (4/247), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), Ibnu Katsir di Tafsir-nya (1/310).
Ibnul Jauzi dalam Al Maudhuat (2/545) mengatakan hadits ini palsu. Namun, yang benar adalah sebagaimana yang dikatakan oleh As Suyuthi dalam An Nukat ‘alal Maudhuat (41) bahwa “Hadits ini dhaif, bukan palsu”. Hadits ini juga didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhu’afa (8/313), An Nawawi dalam Al Adzkar (475), oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari (4/135) dan Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (6768).
Yang benar adalah boleh mengatakan ‘Ramadhan’ saja, sebagaimana pendapat jumhur ulama karena banyak hadits yang menyebutkan ‘Ramadhan’ tanpa ‘Syahru (bulan)’.
Hadits 7
أن شهر رمضان متعلق بين السماء والأرض لا يرفع إلا بزكاة الفطر
“Bulan Ramadhan bergantung di antara langit dan bumi. Tidak ada yang dapat mengangkatnya kecuali zakat fithri.”
Hadits ini disebutkan oleh Al Mundziri di At Targhib Wat Tarhib (2/157). Al Albani mendhaifkan hadits ini dalam Dhaif At Targhib (664), dan Silsilah Ahadits Dhaifah (43).
Yang benar, jika dari hadits ini terdapat orang yang meyakini bahwa puasa Ramadhan tidak diterima jika belum membayar zakat fithri, keyakinan ini salah, karena haditsnya dhaif. Zakat fithri bukanlah syarat sah puasa Ramadhan, namun jika seseorang meninggalkannya ia mendapat dosa tersendiri.
Hadits 8
رجب شهر الله ، وشعبان شهري ، ورمضان شهر أمتي
“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ibnu Asakir di Mu’jam Asy Syuyukh (1/186).
Hadits ini didhaifkan oleh di Asy Syaukani di Nailul Authar (4/334),  dan Al Albani di Silsilah Adh Dhaifah (4400). Bahkan hadits ini dikatakan hadits palsu oleh banyak ulama seperti Adz Dzahabi di Tartibul Maudhu’at (162, 183), Ash Shaghani dalam Al Maudhu’at (72), Ibnul Qayyim dalam Al Manaarul Munif (76), Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Tabyinul Ujab (20).
Hadits 9
من فطر صائما على طعام وشراب من حلال صلت عليه الملائكة في ساعات شهر رمضان وصلى عليه جبرائيل ليلة القدر
“Barangsiapa memberi hidangan berbuka puasa dengan makanan dan minuman yang halal, para malaikat bershalawat kepadanya selama bulan Ramadhan dan Jibril bershalawat kepadanya di malam lailatul qadar.”
Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (1/300), Al Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1441), Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Adh Dhuafa (3/318), Al Mundziri dalam At Targhib Wat Tarhib (1/152)
Hadits ini didhaifkan oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhuat (2/555), As Sakhawi dalam Maqasidul Hasanah (495), Al Albani dalam Dhaif At Targhib (654)
Yang benar,orang yang memberikan hidangan berbuka puasa akan mendapatkan pahala puasa orang yang diberi hidangan tadi, berdasarkan hadits:
من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا
“Siapa saja yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)
Hadits 10
رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر . قالوا : وما الجهاد الأكبر ؟ قال : جهاد القلب
“Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar.” Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” Beliau bersabda: “Jihadnya hati melawan hawa nafsu.”
Menurut Al Hafidz Al Iraqi dalam Takhrijul Ihya (2/6) hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Az Zuhd. Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Takhrijul Kasyaf (4/114) juga mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh An Nasa’i dalam Al Kuna.
Hadits ini adalah hadits palsu. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam di Majmu Fatawa (11/197), juga oleh Al Mulla Ali Al Qari dalam Al Asrar Al Marfu’ah (211). Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (2460) mengatakan hadits ini Munkar.
Hadits ini sering dibawakan para khatib dan dikaitkan dengan Ramadhan, yaitu untuk mengatakan bahwa jihad melawan hawa nafsu di bulan Ramadhan lebih utama dari jihad berperang di jalan Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun ulama hadits yang berangapan seperti ini, baik dari perkataan maupun perbuatan Nabi. Selain itu jihad melawan orang kafir adalah amal yang paling mulia. Bahkan jihad yang tidak wajib pun merupakan amalan sunnah yang paling dianjurkan.” (Majmu’ Fatawa, 11/197). Artinya, makna dari hadits palsu ini pun tidak benar karena jihad berperang di jalan Allah adalah amalan yang paling mulia. Selain itu, orang yang terjun berperang di jalan Allah tentunya telah berhasil mengalahkan hawa nafsunya untuk meninggalkan dunia dan orang-orang yang ia sayangi.
Hadits 11
قال وائلة : لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم عيد فقلت : تقبل الله منا ومنك ، قال : نعم تقبل الله منا ومنك
“Wa’ilah berkata, “Aku bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pada hari Ied, lalu aku berkata: Taqabbalallahu minna wa minka.” Beliau bersabda: “Ya, Taqabbalallahu minna wa minka.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Al Majruhin (2/319), Al Baihaqi dalam Sunan-nya (3/319), Adz Dzahabi dalam Al Muhadzab (3/1246)
Hadits ini didhaifkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil Fid Dhuafa (7/524), oleh Ibnu Qaisirani dalam Dzakiratul Huffadz (4/1950), oleh Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (5666).
Yang benar, ucapan ‘Taqabbalallahu Minna Wa Minka’ diucapkan sebagian sahabat berdasarkan sebuah riwayat:
كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض : تقبل الله منا ومنك
Artinya:
“Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya ketika saling berjumpa di hari Ied mereka mengucapkan: Taqabbalallahu Minna Wa Minka (Semoga Allah menerima amal ibadah saya dan amal ibadah Anda)”
Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al Mughni (3/294), dishahihkan oleh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354). Oleh karena itu, boleh mengamalkan ucapan ini, asalkan tidak diyakini sebagai hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Hadits 12
خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة
“Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu: berbohong, ghibah, namimah, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan bersumpah palsu.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al Jauraqani di Al Abathil (1/351), oleh Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131)
Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131), Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (1708).
Yang benar, lima hal tersebut bukanlah pembatal puasa, namun pembatal pahala puasa. Sebagaimana hadits:
من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ، فليس لله حاجة أن يدع طعامه وشرابه
“Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, serta mengganggu orang lain, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya.” (HR. Bukhari, no.6057)
Demikian, semoga Allah memberi kita taufiq untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam yang sahih. Mudah-mudahan Allah melimpahkan rahmat dan ampunannya kepada kita di bulan mulia ini. Semoga amal-ibadah di bulan suci ini kita berbuah pahala di sisi Rabbuna Jalla Sya’nuhu.
وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

sumber : muslimah.or.id

Jumat, 02 Mei 2014

PERSIAPAN BULAN RAMADHAN



Tak semua orang bergembira dalam menghadapi bulan puasa, banyak diantara mereka yg susah krn bulan puasa. Krn dagangannya akan tutup, krn tak bisa merokok sesukanya. Padahal bulan  ramadhan itu bulan yg sangat istimewa, seperti sabda rosul

Rosul bersabda, bergembiralah di bulan ramadhan, karena bulan ini penuh dg berkah. Allah telah mewajibkan atas kalian berpuasa didalamnya. Di bulan ini pintu2 langit dibuka, dan pintu2 neraka ditutup. Dan syetan2 yg jahat di bulan ini dibelenggu. Sesungguhnya allah dibulan ini memiiliki malam yg lebih dari 1000 bulan, barang siapa yg terhalang mendapatkan kebaikan malam itu berarti telah terhalang (HR an nasai)

Dalam hadis diatas, syetan2 yg dibelenggu adalah syetan2 yang kelas kakap. Tapi syetan2 kelas teri tiidak dibelenggu. Itulah makanya sangat hina orang yg berbuat dosa di bulan puasa, krn dia kalah dengan syetan kelas teri.

HR tirmidzi sahih
Rosul bersabda, manakala datang bulan suci ini, akan datang orang yg memanggil ‘wahai orang2 yg menginginkan kebaikan, kemarilah, inilah saatnya untuk beramal. Wahai orang2 yg ingin melakukan keburukan, tahanlah anda ada di bulan suci. Dan di bulan ini Allah akan membebaskan orang2 yg beriman  setiap hari

Begitu istimewanya bulan ramadhan, maka itu kita harus mempersiapkan diri dengan baik sebelum bulan puasa datang. Rosul sendiri juga melakukan persiapan, seperti dikatakan oleh aisyiyah ra

HR bukhari
Dari aisyiyah,  saya tak pernah melihat nabi berpuasa begitu banyak melebihi puasa sya’ban.
Kata para ulama, hikmah disunahkannya berpuasa di bulan sya’ban adalah untuk membersihkan diri menyambut bulan puasa. 

Biasakan diri kita untuk berpuasa, khususnya bulan sya’ban. Juga biasakan sholat malam agar ketika melakukan sholat tarowih bisa dilakukan dg baik
Rosul adalah orang paling dermawan, kalau sudah masuk bulan ramadhan  beliau amat sangat dermawan sekali. Begitupun saat masuk 10 hari terakhir, mulai ba’da isa sampai subuh tdk tidur. Beliau manfaatkan untuk ibadah pada allah.
Untuk itu jadilah orang2 yang sukses di bulan puasa, seperti sabda nabi. oleh karenanya..persiapkan dirimu